Gempa Kubur Impian Sekolah Anak-anak Bantul

Gempa Kubur Impian Sekolah Anak-anak Bantul

- detikNews
Rabu, 31 Mei 2006 13:12 WIB
Bantul - Rohmat (12), bocah dari Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, tidak pernah lagi bermimpi mengenakan seragam sekolahnya sejak gempa mengguncang Yogya dan sekitarnya. Impian itu terkubur dalam-dalam bersama reruntuhan sekolah dan tempat tinggalnya.Bocah kelas 1 SMP Bambanglipuro itu tidak tahu bagaimana kelanjutan nasib pendidikannya. "Ya bagaimana lagi, rumah saya sudah hancur," katanya lirih kepada detikcom, Rabu (31/5/2006).Meski tidak tahu bagaimana nasibnya ke depan, Rohmat tidak mau hanyut dalam kesedihan. Bersama puluhan, bahkan ratusan teman sebayanya yang senasib dengannya, Rohmat yang kini tinggal di pengungsian sudah memiliki kegiatan lain, mencari sumbangan.Bersama teman-temannya setelah puas bermain di sawah atau berenang di sungai, Rohmat memilih menghabiskan waktunya di pinggir Jalan Jamas, Bambanglipuro, Bantul. Di jalan ini, di tengah canda dan tawa, Rohmat mengulurkan tangan meminta bantuan kepada para pengguna jalan. Aktivitas baru yang dijalani bersama teman-temannya itu terbukti ampuh menghapus duka Rohmat.Hanya canda dan tawa yang terlihat. Mereka seolah enggan memikirkan rumah yang ambrol, sekolah yang hancur atau keluarga dan kerabat mereka yang tewas akibat gempa. Padahal sebagian anak-anak ini harusnya mengikuti ujian minggu depan. "Tapi bagaimana, wong sekolahnya juga hancur," kata dia.Di kawasan Bambanglipuro, hampir seluruh rumah dan pertokoan rata dengan tanah. Kini warga tinggal di pengungsian. Kalau pun ada aktivitas yang dilakukan, ya itu tadi, mencari sumbangan di pinggir-pinggir jalan.Warga mengaku kesulitan mencukupi kebutuhan makan sehari-hari karena sumbangan untuk mereka tertahan di Sewon, sekitar 15 km dari desa mereka.Memasuki kawasan Bambanglipuro juga bukan perkara mudah. Daerah ini termasuk yang sulit dijangkau karena banyaknya jembatan yang hancur dan jalan-jalan yang rusak akibat gempa. Jalan Samas yang melintasi kawasan ini saja tinggal separuh. Separuhnya lagi amblas akibat gempa, sehingga hanya kendaraan roda dua yang bisa diandalkan.Warga hanya bisa pasrah. Sampai hari kelima mereka hanya makan seadanya. Sementara pakaian kebanyakan hanya yang melekat di badan, karena belum sempat mencari di reruntuhan rumah mereka. Untuk tidur pun kondisinya sangat memprihatinkan. Mereka membuat tenda-tenda dari jalinan kantong kresek. Untungnya, anak-anak mereka tidak mempermasalahkan kondisi itu. Seperti umumnya dunia anak, mereka tetap cerah ceria. (umi/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads