Berebut Bantuan, Potensi Kekacauan Daerah Korban Gempa
Rabu, 31 Mei 2006 12:49 WIB
Klaten -
Truk-truk yang membawa bantuan logistik untuk korban gempa berdatangan. Namun sering dicegat dan direbut korban di daerah terluar. Korban di daerah tengah apalagi pedalaman cuma gigit jari. Bagaimana ini?Belum ada bantuan memadai dari pemerintah untuk korban gempa di Klaten. Korban mulai kelaparan. Kalaupun pemerintah mengaku telah mengirimkan bantuan ke lokasi, tak jarang bantuan itu tidak sampai kepada mereka.Sepanjang pengamatan detikcom di Klaten hingga Rabu (31/5/2006), terlihat truk-truk pembawa bantuan pangan.Begitu truk memasuki kawasan paling luar korban gempa, ratusan orang menyengatnya. Mereka naik ke bak truk lalu menurunkan semua isinya. Pembawa truk tidak mampu berbuat apa-apa.Demikian seterusnya yang terjadi. Akibatnya, korban yang tinggal di kawasan tengah atau pedalaman tidak akan mendapat bantuan.Kekurangan bahan pangan mulai dirasakan. Penyakit pun mulai mengintai karena mereka tidur di tempat-tempat terbuka, tanpa perlengkapan memadai.Warga nekat melakukannya karena lapar. Namun jika tidak segera dikoordinasikan dengan baik, dipastikan warga yang tinggal di lokasi pedalaman akan selamanya tidak mendapat bantuan memadai."Warga yang dekat dari pos bantuan selalu menghabiskan bantuan. Kami selalu tidak dapat jatah bantuan. Kalau bicara lapar, kami juga menderita hal serupa. Jika dibiarkan, mereka akan menumpuk terus karena akan disimpan untuk persediaan," keluh Wahyo, warga Teluk, Kragilan, Gantiwarno, Klaten.Bantuan dari simpati warga juga tidak sampai ke lokasi tempat tinggal Wakiyo yang berada di perbukitan dan terisolir akibat gempa. Hanya motor yang bisa mencapai daerah itu. Sedangkan pihak perorangan yang membantu selalu membawa mobil dan langsung habis dibagi-bagikan di daerah terluar.'Penjarahan' bantuan itu juga diketahui aparat setempat. Namun aparat desa tidak mampu berbuat apa-apa. "Apa salahnya orang lapar berebut bantuan. Kalaupun warga menimbun sekalipun itu juga untuk kebutuhan makan, bukan untuk dijual lagi, karena tidak ada jaminan bantuan akan terus datang kepada warga korban," ujar seorang kepala desa.Namun ancaman datang dari yang tinggal di daerah pedalaman. "Harusnya ada pengawalan dari tentara atau polisi dan dengan tegas melarang penyerobotan agar bantuan itu terbagi rata. Jika terus begini kondisinya, kami bisa menggunakan kekerasan untuk bisa makan," ancam warga.
(sss/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































