Korban Gempa Yogya Butuh Psikolog
Rabu, 31 Mei 2006 11:26 WIB
Jakarta - Tak hanya tenda ataupun bahan makanan yang dibutuhkan para korban gempa di Yogya dan sekitarnya. Mereka juga membutuhkan psikolog. Pasalnya banyak warga yang shock akibat bencana tersebut.Wajah-wajah kuyu dengan tatapan kosong tampak di sekitar tenda-tenda pengungsi yang hanya terbuat dari kantong beras. Mereka duduk terpekur seperti orang linglung dan enggan bicara banyak.Pemandangan itu tampak antara lain di Canden, Jetis, Bantul, Yogyakarta. Seorang pria bernama Prawirodirjo (45) merasa sangat sedih atas musibah yang menimpanya."Hanya saya sendiri yang hidup. Istri dan 3 anak saya meninggal tertimpa rumah," ujar Prawirodirjo kepada detikcom dengan mata berkaca-kaca, Rabu (31/5/2006).Hal yang sama banyak dijumpai di wilayah Kecamatan Bambanglipuro, Dlingo, dan Imogiri. Ditambah lagi mereka harus tinggal berdesakan dalam tenda. Karena satu tenda harus diisi 5 keluarga."Belajar dari kasus Aceh sebaiknya segera didatangkan psikolog untuk proses berikutnya," ujar seorang relawan yang enggan disebut namanya.Para relawan yang turut membantu warga khawatir banyak warga yang mengalami gangguan kejiwaan akibat kehilangan keluarga dan harta benda. Psikologis warga harus segera dipulihkan agar dapat beraktivitas seperti biasa.Masih banyak juga dusun-dusun di wilayah Jetis yang belum mendapatkan bantuan, mereka tinggal di tenda-tenda yang terbuat dari kantong buatan sendiri. Tidak ada tenda bantuan.Sementara bantuan makanan di daerah Bantul masih sangat minim. Banyak dusun terpencil yang belum tersentuh bantuan. Namun mulai hari ini tampak mobil-mobil dari luar kota yang datang membawa bantuan.Para relawan juga mulai menyisir daerah-daerah yang belum medapat bantuan. SAR DIY, PMI, dan sejumlah LSM seperti Mer-C terlihat bersemangat melakukan pendampingan. Warga pun menyambut gembira meski hanya mendapat bantuan 1 kardus mie instan untuk ramai-ramai.
(nvt/)











































