Desa Wisata Kasongan Hancur, Pedagang Minta Bank Hapus Utang
Rabu, 31 Mei 2006 10:35 WIB
Yogyakarta - Salah satu objek wisata di Yogyakarta adalah desa wisata Kasongan, Kecamatan Kasihan, sekitar 6 km dari kota Yogya. Di desa ini wisatawan bisa berbelanja aneka gerabah/keramik dan bisa menyaksikan pembuatannya langsung.Pengamatan detikcom di desa wisata itu, Rabu (31/5/2006) pukul 10.00 WIB, tampak toko-toko gerabah yang ada di desa itu hancur berantakan. Selain toko ambruk, barang dagangan -- utamanya gerabah -- juga sudah tidak berbekas lagi.Salah satu pemilik toko gerabah itu adalah Sri (34). Perempuan ini memiliki 4 toko. Satu toko di antaranya rata dengan tanah, tiga lainnya tidak layak huni lagi. "Sudah doyong (miring)," katanya.Sri mengaku 99% barang daganganya hancur. Yang tersisa hanyalah bunga-bunga kering dan sejumlah kerajinan rotan. "Saya baru bisa bersih-bersih hari ini karena kemarin rumah saya juga roboh," kata warga Jalan Karangnongko, Panggungrejo, Bantul, ini. Tak cuma Sri saja yang bersih-bersih hari ini. Para pedagang lainnya juga sibuk melakukan hal serupa.Sri mengaku menderita kerugian sekitar Rp 750 juta. Banyaknya kerugian ini karena pada saat gempa (Sabtu, 27 Mei 2006), toko-tokonya baru saja distok dengan jumlah dagangan melimpah. "Soalnya Sabtu kan hari libur, jadi pengunjung ramai. Saya stok barang banyak. Kalau bukan hari Sabtu, tentu dagangannya nggak sebanyak itu," ujarnya.Sri mengaku tak tahu harus berbuat apa ke depannya. "Saya bingung. Saya masih punya utang untuk bisnis ini Rp 475 juta di BRI," keluhnya.Selain utang di bank, dia juga punya utang untuk memenuhi order. Padahal barang-barangnya saat ini sudah hancur, modal tidak ada, utang menumpuk. "Kalau bisa sih kami minta utang kami di BRI dihapuskan. Kami kan harus mulai dari nol lagi," ujar Sri dengan mata menerawang.
(nrl/)











































