Kontemplasi Qalbu (65)

Menyiapkan Ruang Seni dalam Qalbu

Nasaruddin Umar - detikNews
Sabtu, 30 Apr 2022 05:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Seni merupakan instrumen penting untuk melunakkan hati. Mungkin karena itu, agama menempatkan seni sebagai bagian yang tak terpisahkan di dalam ajarannya. Dalam Islam, seni memiliki kedudukan yang amat penting. Kitab Suci Al-Qur'an adalah "karya" seni yang sangat menakjubkan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari struktur bahasanya yang sangat indah sampai kepada pola dialektiknya di dalam menembus relung-relung hati manusia. Tidak sedikit orang terpikat hingga memeluk agama Islam karena keindahan tutur dan balagah Al-Qur'an. Islam dan dunia seni bagaikan sebuah mata uang yang memiliki dua sisi.

Islam tanpa seni dan seni tanpa Islam tidak akan mencapai kesempurnaan. Islam merupakan ajaran Tuhan yang memerlukan seni di dalam mengartikulasikan kedalaman aspek kebatinan dari ajaran itu. Seni merupakan bagian dari sisi dalam manusia yang membutuhkan lokus untuk mengaktualisasikan nilai-nilai estetisnya. Islam dan seni menuntut ekspresi "rasa" yang amat mendalam dari manusia. Islam berisi ajakan kelembutan, kedamaian, kehalusan, harmony kepada pemeluknya, sedangkan seni menawarkan ajakan-ajakan itu.

Imam Al-Gazali dalam kitab Ihya' 'Ulum al-Din, pernah mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki rasa seni dikhawatirkan jiwanya kering. Barangsiapa yang jiwanya tidak tergerak oleh musik merdu maka boleh jadi tabiatnya sudah rusak dan obatnya tidak ada. Bahkan ia menyatakan permainan musik yang memperhalus jiwa dan budi pekerti anak-anak dan perempuan lebih baik daripada menjalani zuhud (tidak suka dunai). Mungkin dari sisi ini kita bisa memahami mengapa para sufi rata-rata begitu dekat dengan dunia seni. Kita mengenal sejumlah sufi yang sekaligus seniman dan sejumlah seniman yang juga sekaligus sebagai sufi dan ahli/praktisi kontemplasi. Jalaluddin Rumi (w.1207 M) salah seorang di antaranya. Ia sangat populer sebagai sufi seniman dan seniman sufi.

Dalam menempuh perjalanan spiritual, ia membutuhkan media seni untuk membangkitkan soft power dan inner beauty-nya. Bunyi merdu seruling dan warna musik lainnya dibutuhkan untuk mengiringi tarian sufi (divine dancing) yang lebih populer dengan Whirling Dervishes. Tarian ini merupakan media puncak bagi Jalaluddin Rumi karena ia bisa mencapai puncak kepuasan spiritual (spiritual orgams). Kombinasi seni musik, gerak, dan lagu ini merupakan proses spiritual cohetion antara Pencipnta dan kekasih yang diciptakannya dan antara hamba sang pencinta dan Yang Disembahnya. Di dalam Whirling Dervishes itulah Jalaluddin Rumi menemukan bait-bait sayirnya yang secara umum dituangkan di dalam Matsnawi, suatu karya seni yang amat monumental dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.


Ada kesan di dalam masyarakat kita seolah seni dan seniman tidak punya tempat di dalam Islam, terutama di dalam masyarakat Islam sunny. Seolah-olah Islam dan seni bagaikan air dan minyak. Islam orientasinya keshalehan, kesucian, dan keluhuran budi pekerti. Sedangkan seni dan seniman konotasinya glamor, urakan, dan tidak taat azas budi pekerti. Asumsi dan konotasi seperti itu sepenuhnya tidak benar. Idealnya seorang muslim sejati lebih familiar dengan seni karena cara paling efektif menuju Tuhan ialah dengan menempuh jalur rasa (cinta). Jalur ini lebih pendek dibandingkan dengan jalur "takut". Dalam Islam, Tuhan bukan Sosok Yang Maha Mengerikan untuk ditakuti, tetapi Sosok Yang Maha Penyayang untuk dicintai. Pola relasi cinta menggambarkan Tuhan immanent dan dekat. Sedangkan pola relasi takut menggambarkan Tuhan trancendent dan jauh. Keberhasilan Islam menguasai hati mayoritas warga bangsa Nusantara karena para penganjur Islam di masa awal di negeri ini menggunakan pendekatan seni, atau mengakomodir budaya dan seni lokal masyarakat untuk selanjutnya dijadikan sebagai media dakwah.

(lus/lus)