Bamsoet Terbitkan Jurnal Internasional Tentang Pentingnya PPHN

Hanifa Widyas - detikNews
Jumat, 29 Apr 2022 11:42 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI sekaligus kandidat doktor studi Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran Bambang Soesatyo menulis artikel riset berjudul 'The Urgency of the Staples of State Policy As a Legal Umbrella For The Sustainable Development Implementation to Face The Industrial Revolution 5.0'. Artikel tersebut dimuat dalam jurnal internasional Central Asia and The Caucasus Journal, Volume 23 Issue 1 2022, English Edition yang terindex Scopus.

"Selain sebagai salah satu syarat dalam menempuh pendidikan doktor di studi Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran, artikel tersebut juga untuk memperluas khazanah pemikiran tentang urgensi kehadiran Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) sebagai payung hukum pelaksanaan pembangunan berkelanjutan Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 5.0," ujar Bamsoet di Jakarta, Jumat (29/4/2022).

Artikel Bambang diterbitkan oleh CA and CC Press AB dari Swedia. Ia mengatakan publik yang tertarik bisa membaca dan mengkritisi tulisan tersebut dengan mengklik tautan https://ca-c.org/submissions/index.php/cac/article/view/121/55.

"Publik bisa membaca dan mengkritisinya, sehingga ruang dialog semakin terbuka yang pada akhirnya akan semakin mempertajam pengetahuan tentang urgensi kehadiran PPHN," lanjutnya.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menjelaskan dalam artikel tersebut dirinya menjelaskan tentang perjalanan Indonesia yang pernah memiliki Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai landasan program pembangunan nasional di masa lalu. Namun, keberadaan GBHN akhirnya dihapuskan dalam amandemen ketiga konstitusi yang dilakukan pada 1-9 November 2001.

Perubahan penting lainnya dalam amandemen ketiga tersebut adalah presiden dan wakil presiden yang langsung dipilih oleh rakyat dan tidak lagi dipilih oleh MPR RI. Hal tersebut menyebabkan program pembangunan didasarkan pada visi-misi presiden dan wakil presiden terpilih, bukan didasarkan pada GBHN yang dibuat oleh MPR RI.

"Karena ketiadaan GBHN sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan nasional, pemerintah kemudian membentuk UU Nomor 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan UU Nomor 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025. Namun dalam implementasinya, berbagai peraturan perundang-undangan tersebut masih menyisakan beragam persoalan. Selain kecenderungan eksekutif sentris, dengan model sistem perencanaan pembangunan nasional yang demikian, memungkinkan RPJPN dilaksanakan secara tidak konsisten dalam setiap periode pemerintahan," jelas Bamsoet.

Ia menerangkan pula mengenai potensi ketidakselaraan yang terjadi antara sistem perencanaan pembangunan nasional dan sistem perencanaan pembangunan daerah. Mengingat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tidak terikat untuk mengacu pada RPJMN karena visi dan misi gubernur/bupati/walikota sangat mungkin berbeda dengan visi dan misi presiden dan wakil presiden terpilih.

"Berbagai kelemahan tersebut akhirnya mengantarkan pada gagasan perlunya MPR diberikan kembali kewenangan menetapkan Haluan Negara, yang kemudian dikenal dengan nomenklatur PPHN. Keberadaannya akan menjadi kaidah penuntun (guiding principles) yang berisi arahan dasar (directive principles) tentang bagaimana melembagakan nilai-nilai Pancasila dan Konstitusi ke dalam pranata publik. PPHN juga menjadi paket integral dari konsepsi negara kekeluargaan yang dikehendaki Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945," terangnya.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum FKPPI/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan keberadaan PPHN juga sangat diperlukan dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi Revolusi Industri 5.0. Kesenjangan antara manusia dengan masalah ekonomi dan teknologi dapat dikurangi dengan menciptakan nilai baru melalui perkembangan teknologi canggih.

Oleh sebab itu, keberadaan PPHN sangat penting untuk memuat norma-norma dasar yang mengarah pada cita-cita dan tujuan nasional yang sifatnya memberikan arahan kepada lembaga-lembaga negara. Terutama lembaga penyelenggara pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

"Tidak heran jika banyak pihak seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Forum Rektor Indonesia, Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Organisasi Kemasyarakatan dan Organisasi Keagamaan mulai dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Pengurus Pusat Muhammadiyah, dan lain sebagainya menilai kewenangan membentuk PPHN lebih tepat berada ditangan MPR, sebagai lembaga legislatif yang paling representatif karena diisi oleh DPR RI (representasi politis) dan DPD RI (representasi teritorial/daerah)," pungkas Bamsoet.

(ega/ega)