Polda Kaltara Ungkap Penjualan Ilegal 156 Ton BBM Bersubsidi di Nunukan

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Kamis, 28 Apr 2022 20:26 WIB
Polda Kaltara membogkar jual beli BBM bersubsidi ilegal di sebuah kapal di Nunukan
Polda Kaltara membogkar jual-beli BBM bersubsidi ilegal di sebuah kapal di Nunukan (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Polda Kalimantan Utara (Kaltara) membongkar kapal diduga penimbun BBM bersubsidi jenis Pertalite dan biosolar di Kabupaten Nunukan. Sebanyak 14 pelaku ditangkap.

Dirkrimsus Polda Kaltara AKBP Hendy F Kurniawan mengatakan pengungkapan kasus itu bermula dari laporan masyarakat terkait kelangkaan solar dan Pertalite. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan mengamankan sebuah kapal di anak Sungai Sebuku, Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan.

"Telah ditemukan dugaan penyalahgunaan atau penjualan bahan bakar minyak bersubsidi berupa biosolar dan Pertalite," ujar Dirkrimsus Polda Kaltara AKBP Hendy F Kurniawan dalam keterangan kepada detikcom, Kamis (28/4/2022).

Dalam kasus ini, polisi menangkap 14 orang. Polisi juga menyita 128 ribu liter Pertalite dan 28 ribu liter biosolar.

"Sesuai dokumen DO, penyaluran atau penjualan bahan bakar minyak bersubsidi berupa biosolar dan Pertalite tersebut seharusnya ke SPBU, tetapi ini malah dijual ke kapal," jelasnya.

Selain itu, Hendy menyebut pihaknya mengamankan sejumlah barang bukti lain berupa 1 unit kapal dan 3 unit mobil tangki BBM. Sebanyak 14 orang yang diamankan saat ini masih diperiksa di Polda Kaltara.

Hendy mengatakan para pelaku tersebut diduga melanggar Pasal 53 dan/atau Pasal 55 UU RI No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan/atau Pasal 62 jo Pasal 8 dan/atau Pasal 9 UU RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan/atau Pasal 106 UU RI Nomor 7 Tahun 2014 ttg Perdagangan dan/atau UU RI Nomor 2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal jo Pasal 55, 56 KUHP," kata Hendy.

Lebih lanjut, Hendy mengungkapkan kasus tersebut masih dilakukan pendalaman lebih lanjut. Sebanyak 19 orang saksi sudah diperiksa terkait kasus tersebut.

"Saat ini masih pendalaman. Sudah 19 orang diperiksa sebagai saksi, masih proses status quo semua barang bukti dan koordinasi dengan pihak Pertamina," pungkasnya.

(mea/jbr)