Badan Geologi: Aktivitas Gunung Anak Krakatau Sudah Mereda

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 28 Apr 2022 18:02 WIB
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM Hendra Gunawan
Hendra Gunawan (Foto: Tangkapan layar YouTube BNPB)
Jakarta -

Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sudah mereda. Namun, Badan Geologi meminta masyarakat tetap waspada dan memantau informasi resmi pemerintah.

"Untuk kehati-hatian saja yang perlu diwaspadai adalah masyarakat untuk tetap update informasi tentang aktivitas gunung melalui situs-situs resmi dari pemerintah untuk menghindari hoax. Diharapkan masyarakat tetap tenang karena Gunung Anak Krakatau saat ini sudah mereda," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM Hendra Gunawan dalam jumpa pers di kanal YouTube BNPB, Kamis (28/4/2022).

Hendra mengatakan ketinggian asap akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai 150 meter. Selain itu, Gunung Anak Krakatau masih mengeluarkan sinar api.

"Kalau kita lihat langsung asap itu berasal dari tubuh Gunung Anak Krakatau yang baru, jadi kalau totalnya kurang-lebih sekitar 150 meterlah dari tubuh Gunung Anak Krakatau yang baru," tutur Hendra.

"Dilaporkan juga dari pos pengamatan dari Gunung Anak Krakatau ini ada sinar api setinggi 25 meter. Jadi kalau malam hari ini kadang-kadang kita amati adanya sinar api. Artinya tempat keluar asap itu masih panas," lanjutnya.

Hendra menjelaskan tremor Gunung Anak Krakatau telah turun menjadi 2 milimeter. Kondisi ini berdasarkan rekaman data dan langsung dari pengamatan.

"Yang melegakan adalah data-data yang terekam secara instrumental energi tremor yang per tanggal 24 dan 25 April ini sampai overscale sekarang hanya dalam rata-rata 2 milimeter, di mana oversalce sekitar 55 milimeter. Jadi sudah drop sesuai antara yang direkam maupun penampakan langsung di lapangan," jelasnya.

Selain itu, gas sulfur dioksida (SO2) yang dihasilkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menurun. Gas SO2 yang dihasilkan oleh Gunung Anak Krakatau sebanyak 5.000 ton.

"Begitu juga dari fluks gas SO2 yang saat 24 April itu mencapai 9.000 (ton) dan 6 jam kemudian mencapai 13.000 dan 2 hari yang lalu sudah mencapai 5.000, memang semua sudah menurun," katanya.

(lir/haf)