KKP Siap Dukung Pemda Selidiki Pencemaran di Perairan Bima

Hanifa Widyas - detikNews
Kamis, 28 Apr 2022 14:41 WIB
Air laut di Pantai Amahami, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat berubah warna menjadi cokelat keputihan. Ini diduga karena tercemar limbah.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono siap mendukung pemerintah daerah menyelidiki penyebab pencemaran di perairan Teluk Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pihaknya menyayangkan pencemaran tersebut yang mengakibatkan permukaan laut menjadi kecokelatan.

"Kejadian seperti ini jelas merugikan kesehatan laut. Kami berkoordinasi dengan pemda dan siap mendukung penyelidikan sampai tuntas," ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam keterangan tertulis, Kamis (28/4/2022).

Adapun pencemaran juga terpantau di Pantai Lawata, Kota Bima, mulai Rabu 27 April 2022. Hal tersebut diketahui berdasarkan data yang dikumpulkan unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Denpasar.

Pencemaran terjadi akibat material penutup permukaan laut berwarna cokelat berbentuk seperti gel, tidak berbau minyak, dan tidak bercampur sempurna dengan air laut.

Di sekitar area pencemaran ditemukan beberapa ikan dalam keadaan mabuk dan mati. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, sampel air permukaan, air bawah permukaan, dan bangkai ikan telah dikirim untuk dilakukan uji laboratorium oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bima.

"Tim KKP terus melakukan pengumpulan data. Balai KKP di Jembrana juga tengah melakukan pencitraan kondisi sebelum dan sesudah kejadian," imbuh Trenggono.

Trenggono menambahkan jika semua pihak menyadari pentingnya kesehatan laut, kejadian pencemaran ini tidak akan terulang kembali.

Selain itu, Trenggono menyampaikan KKP berkomitmen penuh menjaga kesehatan laut dengan menjadikan kelestarian ekosistem sebagai pertimbangan utama dalam membuat kebijakan maupun program kerja.

Simak juga 'Detik-detik Kapal Ikan Filipina Tepergok Curi Ikan di Laut Sulawesi':

[Gambas:Video 20detik]



(ncm/ega)