Mahasiswa Yogya Bangun Pagi Antre Sarapan
Rabu, 31 Mei 2006 06:08 WIB
Jakarta - Siapa cepat dia dapat. Begitulah kalau mau dapat sarapan di Yogyakarta pascagempa yang melanda 27 Mei lalu. Warga masih sulit mendapatkan makanan terutama di pagi hari."Aku harus bangun pagi-pagi biar nggak kehabisan sarapan," ujar Yenny, mahasiswi salah satu universitas swasta di Yogya, kepada detikcom, Rabu (31/5/2006).Menurut Yenny, rata-rata penjual sarapan di Sleman telah habis dagangannya pukul 06.30 WIB. "Jadi harus cepat-cepatan nih, udah gitu sering antre lagi," cetus dia.Pascagempa, penjual makanan belum banyak yang kembali berdagang. Kalau pun berdagang, jumlahnya lebih sedikit. Padahal pembelinya tidak berkurang. Karena sulit mendapat makanan, Yenny dan teman-teman satu kosnya pun menyimpan mie instant dan telur."Kalau enggak dapat makanan di warung, ya makannya mie atau telur," imbuh dia.Terkadang ia pun menyempatkan berbelanja ke pasar Condong Catur yang tidak jauh dari kosnya. Namun harga bahan pangan di pasar pun naik setelah gempa."Tahu yang biasanya Rp 1.000 dapat tiga, sekarang sebiji Rp 600. Soalnya bahan makanan juga sulit sih, katanya pasar ngambilnya juga dari Bantul," kata Yenny.Namun demikian, dia mengakui kondisi saat ini berangsur-angsur membaik. Warung makan yang semula tutup, beberapa sudah mulai buka lagi. Tak hanya Yenny yang berharap situasi menjadi lebih baik, seluruh warga Yogyakarta dan sekitarnya pun mengharapkan hal yang sama.
(fay/)











































