Cerita Gempa
Keluar Rumah Berbalut Busa Sabun
Selasa, 30 Mei 2006 18:12 WIB
Jakarta - Di balik peristiwa tragis biasanya terselip cerita-cerita lucu. Seperti yang dialami seorang wartawan koran nasional. Ketika gempa mengguncang Yogyakarta, dia keluar rumah menyelamatkan diri sambil telanjang. Maklum, waktu itu lagi mandi. Suherdjoko (43), ayah tiga orang anak ini bersama istrinya merupakan salah satu dari sekian banyak warga yang selamat dari gempa. Wartawan harian The Jakarta Post itu, sebenarnya tinggal Semarang. Dia ke Yogya bersama keluarganya untuk berlibur. Di Yogya, dia memang memiliki rumah di Kampung Timuran, Kelurahan Brotokusuman, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta.Bukan berlibur yang dia dapat bersama keluarganya. Tapi nyaris menjadi korban gempa dan pengalaman menggelikan. Ceritanya Sabtu 27 Mei pagi, Djoko panggilan akrabnya tengah mandi. Anak pertamanya yang berusia 9 tahun sedang asyik-asyiknya menonton TV. Sedangkan anak keduanya yang berusia 7 tahun masih tidur di kamar. Dan yang paling kecil berusia 3 tahun tidur di bawah lemari tempat kakaknya nonton TV. Sedangkan sang istri masih sibuk mencuci pakaian di belakang. "Waktu gempa sedang terjadi aku lagi mandi. Panik, terus keluar dari kamar mandi dengan telanjang. Sibuk mencari anakku untuk aku bawa keluar. Untunglah kami sekeluarga selamat dengan lari terbirit-birit ke halaman rumah. Setelah diluar aku baru sadar ternyata aku masih telanjang," kisah Djoko kepada detikcom, Selasa (30/5/2006). Djoko menggambarkan suasana saat itu memang panik. sehingga dia tidak sadar kalau dia telanjang. Padahal di sebelah rumahnya itu merupakan kos-kosan mahasiswi. Namun karena semua warga lagi panik, tidak ada yang memperhatikan kalau dirinya telanjang bulat. Setelah beberapa menit, Djoko tersadar kalau dirinya dalam keadaan telanjang bulat dengan penuh sabun karena belum tuntas mandinya. "Aku masih telanjang bulat penuh dengan busa sabun di halaman rumah. Ketika aku tersadar, aku ambil langkah seribu ke kamar mandi mencari celana yang tersisa. Akhirnya dapat juga kolor warna putih yang sangat tipis. Ya terpaksa aku pakai, dari pada telanjang," kata Djoko sambil tersenyum.Setelah berhasil mendapatkan kolor warna putih sedengkul itu, naluri wartawannya pun muncul. Dia nekat mencari kamera di sela-sela reruntuhan rumahnya yang rata dengan tanah.Dengan memakai kolor dan penuh busa sabun, Djoko pun segera melaksanakan tugas jurnalismenya. "Busa sabun itu mengering sendiri dan tak enak di badan," katanya.Selain rumahnya, bangunan di sekitarnya juga mengalami yang sama. Dia juga sempat kesal dan membentak sejumlah mahasiswi yang kos di sebelah rumahnya yang menertawakannya. Padahal para mahasiswi tersebut pun hanya memakai pakaian tidur seadanya tanpa mengenakan bra."Jangan tertawa, ini tidak ada yang lucu. Tolongin tetangga kita yang tertimpa reruntuhan," bentak Djoko kepada para mahasiswi tersebut.Bersama istri dan anaknya, dengan celana kolor dan kameranya, Djoko nekat berkeliling Yogya naik mobil Kijang tua miliknya untuk mencari momen foto bagus yang bisa segera dikirim ke kantornya di Jakarta. Di dalam mobil tua itulah, mereka kumpul satu keluarga. Dia tidak perduli, walau cuma kolor yang tersisa dibadannya, tetap saja meliput. "Rumahku sudah ambruk. Kami anak beranak, tidur di mobil tua ini," kenangnya.
(bal/)











































