Eat-to-Earn: Adopsi NFT untuk Ketercukupan Ekonomi Petani dan Pekerja

Sponsored - detikNews
Selasa, 26 Apr 2022 11:15 WIB
Lumbung.io
Petani memegang hasil panen brokoli/Foto: Lumbung.io
Jakarta -

Pemanfaatan dari Non Fungible Token (NFT) sekarang tidak hanya pada game, seni digital, dan musik, melainkan telah digunakan di ranah agraria untuk petani dan produksi makanan untuk pekerja. Lantas bagaimana aset NFT bisa membantu petani dan pekerja guna memperoleh dampak nyata?

Platform Lumbung yang dikembangkan oleh PT Lumbung Mandiri Bersama memungkinkan integrasi dengan teknologi blockchain tanpa batas untuk petani, pekerja, dan nyaris 90% populasi yang tertinggal digitalisasi. Sehingga pihak-pihak tersebut mampu mendapatkan ketercukupan (inklusi) ekonomi yang maksimal.

Guna mencapai tujuan tersebut, Platform Lumbung meluncurkan proyek NFT bernama Eat-to-Earn (Eat2Earn) sebagai landasan praktik sehat pertanian. Landasan ini berguna agar lahan pertanian dalam jangka panjang memberi dampak yang baik dan positif.

Selain itu, proyek Eat-to-Earn juga menciptakan ekosistem sehat untuk setiap individu maupun bisnis dengan peluang yang sama. Melalui benih NFT dari transaksi yang bersumber dari dunia nyata, dapat memberikan nilai untuk masing-masing pelanggan di dalam sistem blockchain.

Founder and Chief Investment and Strategy Lumbung IO Nathan Oen mengatakan adanya teknologi NFT dapat dimanfaatkan oleh setiap orang untuk mencapai inklusi ekonomi serta hasil lebih baik di masa mendatang. Sebab pada dasarnya, NFT dapat diperjualbelikan yang mana juga berarti sebagai aset investasi jangka panjang.

"Adanya NFT yang kita punya harus memberi dampak baik dan nilai untuk orang di sekitar. Dalam proyek Eat-to-Earn kami berupaya membangkitkan potensi perempuan dan petani terutama pada ranah pertanian melalui berbagai komoditas yang berpotensi," kata Nathan.

Lumbung.ioAplikasi Lumbung Dagang di HP Petani Foto: Lumbung.io

Mengenal Platform Lumbung

Lumbung IO adalah platform perangkat lunak berbasis Software as a Service (SaaS). Platform tersebut mampu dideskripsikan dengan jelas sebagai jaringan blockchain di NFT, DAO, komunitas lokal, dan smart contract. Platform ini juga dapat beroperasi di berbagai bidang secara keseluruhan.

Fokus dari platform Lumbung adalah petani Indonesia dan para perempuan melalui akses pendidikan serta pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi digital. Tujuannya sudah jelas, yaitu mencapai integritas hingga adopsi secara penuh blockchain khususnya NFT guna mendapat inklusi ekonomi bagi petani dan pekerja.

Nathanmengatakan dengan peluncuran proyek Eat-to-Earn yang pihaknya keluarkan memungkinkan masuknya kreator NFT ke dalam industri makanan, minuman, dan agraria (pertanian). Lumbung IO juga merupakan Blockchain Business House yang terdistribusi dan terdemokrasi secara baik.

Nathan dan pihaknya memberikan kemudahan serta dampak positif untuk para pemegang NFT di komunitasnya.

"Kami selalu memikirkan cara kreatif serta inovatif guna merealisasikan gambaran besar proyek ini. Supaya memberi nilai positif, kemudahan, dan manfaat ekonomi bagi para pemegang NFT dan komunitas," lanjutnya

NFT menjadi instrumen yang menarik karena dapat mendigitalisasi berbagai macam aset termasuk industri dan pertanian. Tidak berhenti di situs saja, aset NFT seperti crypto yang mana pemiliknya dapat melakukan jual beli sehingga hal ini membuka potensi yang besar dalam bidang investasi digital.

Pihak Lumbung IO sudah memulai program di Bandung sejak 2019 silam. Pihaknya menyediakan berbagai macam servis untuk menyalurkan produksi para petani. Platform ini adalah rumah untuk semua, karena dapat digunakan dalam sektor bisnis, pemerintahan, perkotaan, dan pedesaan.

Memahami Apa Itu Eat to Earn

Eat-to-Earn adalah proyek blockchain kreatif serta inovatif dari Lumbung IO yang berupaya menciptakan fondasi kesehatan industri pertanian dalam jangka panjang. Menjadi platform gamifikasi yang dapat siapapun gunakan, baik bisnis maupun perorangan, dalam mempersiapkan menghadapi metaverse.

Nathan menyatakan bahwa dengan platform Eat-to-Earn ini, pelanggan akan mendapat hasil secara nyata. Mereka bisa memesan makanan dan mengetahui asal muasal makanannya yang mana versi virtualnya sudah diwakili oleh NFT di dalam blockchain.

NFT yang sudah dibeli tidak bisa dipalsukan, bisa melacak siapa pencipta dan pemilik asalnya, serta dapat mengetahui dengan detail dan tepat ke mana uang mereka pergi dengan setiap pembelian makanan. Maka dari itu, dari tanda terima makanan yang dipesan, pelanggan bisa memperoleh benih NFT. Selanjutnya benih NFT ini bisa menghasilkan manfaat ekonomi secara nyata untuk pemiliknya.

"Melalui platform ini, setiap peserta dalam rantai makanan mendapat bagian keuntungan dan bukan hanya perusahaan besar yang memiliki restoran. Dengan platform Eat2Earn Lumbung, perusahaan pengemasan dan korporasi tidak lagi dapat menekan harga bahan baku yang mereka berikan kepada petani," jelas Nathan.

Sementara itu, untuk pengembangan produksi skala lokal, dengan Platform Lumbung IO melalui Eat-to-Earn memperkenalkan transparansi ke dalam rantai pasokan makanan. Dampaknya, masyarakat bisa mempertahankan produksi skala lokal serta melakukan pengembangan dengan berkelanjutan jangka panjang.

Selain benih NFT dari makanan, insentif yang pelanggan dapatkan dari Eat-to-Earn Lumbung adalah token bonus. Cara mendapatkan token bonus adalah membelanjakan token Eat-to-Earn untuk barang-barang hasil produksi lokal. Nathan menyatakan pihaknya mencoba menciptakan ekosistem digital ekonomi regeneratif yang mendorong pelanggan membeli barang dari lokal.

Dengan kata lain, semua ekosistem dalam Eat-to-Earn Lumbung tersebut memberikan kesetaraan yang sejajar dan ketercukupan ekonomi untuk bisnis maupun perorangan. Tidak hanya bisnis atau perusahaan besar yang punya akses, individu juga punya akses serta peluang yang sama.

Lumbung.ioKang Puloh sedang mengecek hasil panen tani Foto: Lumbung.io

Kesimpulan

Eat-to-Earn Lumbung IO mempelopori ekosistem regeneratif dalam sektor pertanian. Yang mana ekosistem tersebut membuat petani, pekerja, koki, pembuat resep makanan, hingga pemilik restoran mendapatkan manfaat ketercukupan (inklusi) ekonomi dari pekerjaannya.

Nathan menuturkan ekosistem ekonomi regeneratif ini mulai dari transaksi dunia nyata yang kemudian menjadi nilai di blockchain dengan melibatkan semua peserta di dalam siklus penggerak produk. Dari produsen bahan mentah, produsen, pengguna akhir, dan setiap individu mengambil peran ganda dalam ekosistem.

Melalui Platform Lumbung, pihaknya menciptakan ekosistem yang mana masyarakat umum dapat mengambil bagian dan peluang ekonomi yang setara tanpa adanya kelas sosial maupun kekayaan.

"Kami menciptakan ekosistem di mana masyarakat umum mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang ada di wilayah berkembang dan tidak terikat oleh kelas sosial atau kekayaan. Platform dan kesejahteraan pengguna akan semakin segera meningkat terhadap perekonomian, dengan produsen barang primer seperti petani dapat memperoleh lebih banyak uang dengan memperoleh bagian yang transparan dan adil dari nilai ekonomi yang diciptakan dalam rantai nilai mereka," papar Nathan.

Hal ini sejalan dengan misi Lumbung IO yaitu semua warga negara bisa untuk memperoleh keuntungan, inklusi, dan pertumbuhan ekonomi untuk mempercepat perubahan ke arah yang lebih baik dari keuangan masyarakat.

"Misi kami adalah memungkinkan semua warga negara untuk mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan untuk mengkatalisasi pertumbuhan keuangan dalam masyarakat," sebut Nathan.

Untuk info lebih lanjut tentang bagaimana bisa ikut bersumbangsih berbuat kebaikan dengan Grain Token dari PT. Lumbung Bersama Mandiri, silakan bisa kunjungi website www.lumbung.io atau kunjungi media sosial lainnya, Instagram : https://www.instagram.com/graintokenid/ dan telegram : https://www.telegram.com/GrainTokenLMB

(Content Promotion/Lumbung)