Paripurna Blok Cepu Hujan Interupsi, Isu Suap Merebak
Selasa, 30 Mei 2006 10:52 WIB
Jakarta - Hujan interupsi meramaikan sidang paripurna DPR yang mendengarkan pendapat fraksi soal hak angket Blok Cepu. Isu suap Rp 5 miliar pun merebak.Interupsi pertama dilontarkan anggota DPR dari FPDIP Hasto Kristiyanto.Hasto menilai ada oknum yang ingin membuat sidang paripurna kali ini tidak steril lagi. Hal itu terkait upaya ExxonMobil menggolkan kepentingannya di Blok Cepu, serta memuluskan hambatan-hambatan yang ada di dewan.Kaarenanya, dia meminta pimpinan dewan menunda sidang paripurna kali ini. "Kami mengusulkan sidang paripurna ini ditunda," tegas Hasto dalam sidang di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (30/5/2006).Bahkan Hasto mengaku ada pihak-pihak yang berulang kali ingin menyuap dirinya. Bentuk suap itu antara lain dengan menawarkan sebidang tanah dan rumah di daerah Cepu."Saya pribadi dapat tawaran untuk mendukung ExxonMobil sebagai operator di Blok Cepu, seperti tanah dan rumah," ungkapnya terus terang.Senada dengan Hasto, rekannya satu fraksi, Panda Nababan mendesak sidang ditunda untuk dilakukan klarifikasi tentang isu yang beredar."Ini harus diklarifikasi untuk kehormatan sidang ini. Kita tidak ingin sidang ini cedera," tegasnya.Bahkan Panda mensinyalir, jika ada fraksi yang menolak usulan hak angket ini, maka bisa dipastikan fraksi itu dapat bagian dana Rp 5 miliar yang diisukan akan dibagi-bagi untuk anggota dewan.Namun anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Syamsul Bahri menampik anggapan Panda. Menurutnya, penolakan oleh fraksi-fraksi jangan dianggap ada kaitannya dengan isu suap."Sejak awal kami menganggap angket tidak perlu dan lebih baik kita buktikan pendapat fraksi-fraksi nanti tanpa terpengaruh isu dari koran," katanya.Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif yang memimpin sidang mengabaikan interupsi tersebut. Dia malah membacakan nama-nama anggota DPR yang terkait dengan pergantian antar-waktu.
(umi/)











































