Susah, Pasrah, tapi Solider

Warga Korban Gempa

Susah, Pasrah, tapi Solider

- detikNews
Selasa, 30 Mei 2006 08:53 WIB
Yogyakarta - Rumah tak ada, harta benda entah ke mana, tak lengkap lagi anggota keluarga. Namun meratap tidak bisa dilakukan selamanya, apalagi karena masih ada yang lebih sengsara.Itulah gambaran keadaan dan sikap sebagian besar warga korban gempa bumi yang melanda Yogyakarta hari Sabtu (27/5/2006) lalu. Bahwa bencana ini terjadi atas kehendak Yang Kuasa dan manusia tak mungkin menghindarinya."Rumah saya hancur, barang yang bisa diselamatkan ya tidak banyak. Tapi ndak apa-apa, Mas, mau apa lagi? Ini semua maunya Gusti Allah," tutur Suwardi Suryosuparto (56), yang ketika peristiwa mengerikan itu terjadi sedang menunaikan salat Subuh.Warga Dusun Ngrapyak Kulon, Panjang Rejo, Pundong, Bantul, itu juga bersyukur karena semua anggota keluarganya selamat. "Tetangga kami malah ada yang meninggal. Kalau materi sih nanti-nanti bisa dicari lagi," lanjut pensiunan kepala SD itu saat ditemui detikcom.Suwardi bersama istri dan kedua orangtuanya saat ini berteduh di tenda sementara yang dibuatnya sendiri dari sisa-sisa rumahnya yang runtuh. Ini dialami pula oleh ribuan warga lain yang kehilangan tempat tinggal yang telah didiami selama bertahun-tahun, tapi lenyap hanya dalam hitungan menit.Meski begitu, yang terjadi sudahlah terjadi. Mengeluh tentu saja masih mereka lakukan, tapi setiap keluhan yang tercetus umumnya segera disambung dengan rasa syukur karena bukan hanya mereka yang menderita. Yang lebih sengsara pun masih banyak."Kami sih tidak seberapa. Desa sebelah lebih parah, Mas. Semua rata dengan tanah," ujar Saptini, 23, perempuan warga Dusun Colo, Donotirto, Kretek, Bantul, yang rumah orangtuanya sebagian rusak berat, tapi tidak berani dihuni karena khawatir sewaktu-waktu bisa roboh total.Untuk sementara Saptini, bapak-ibu, nenek, dan kedua adiknya berteduh di tenda darurat, yang dibikin dari karung beras plastik dan daun pisang. Ditambah saat ini musim hujan, jangan tanyakan pada mereka soal rasa nyaman.Yang menakjubkan, sudahpun diri sendiri susah, mereka tetap punya solidaritas tinggi. Dua orang tetangganya yang tidak kebagian tenda di depan rumah masing-masing, diajaknya bergabung. Alhasil, "rumah daun pisang" itu makin sempit. "Kasihan, Mas. Mereka juga 'kan sama-sama sedang kesusahan," tukas Saptini.Solidaritas juga ditunjukkan Yulia Romawati, 24, warga Dusun Semoyo, Tegal Tirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Ia dan keluarganya masih bisa mengajak beberapa tetangganya untuk ikut sarapan bersama, walaupun yang dimakan sangat seadanya."Simpanan beras kami masih bisa dipakai. Bisa untuk beberapa orang. Hidup harus tolong-menolong. Hari ini mungkin kita yang membantu, tapi besok mungkin orang lain yang membantu kita," tukas Yulia. (a2s/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads