ADVERTISEMENT

ICW Tak Paham Logika Dewas KPK Tak Sanksi Lili yang Terbukti Bohong

M Hanafi Aryan - detikNews
Kamis, 21 Apr 2022 15:16 WIB
Kurnia Ramadhana
Foto Peneliti ICW, Kurnia Ramadhana: (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Indonesia Corruption Watch (ICW) heran dengan putusan Dewas KPK yang menyatakan Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar bersalah karena bohong saat konferensi pers tetapi tidak menjatuhkan sanksi untuk Lili. ICW menilai seharusnya Lili dijatuhi sanksi.

"ICW tidak memahami bagaimana logika di balik hasil pemeriksaan Dewan Pengawas terkait kebohongan Lili Pintauli Siregar dalam konferensi pers 30 April 2021 lalu," ujar peneliti ICW Kurnia Ramadhana, kepada wartawan, Kamis (21/4/2022).

"Dewas menyampaikan, Saudari LPS terbukti melakukan kebohongan, namun tidak dijatuhi sanksi, karena sebelumnya Terlapor sudah dikenakan hukuman," lanjutnya.

Kurnia mengatakan Lili sebelumnya memang sudah mendapat hukuman pemotongan gaji lantaran terbukti berkomunikasi dengan Walkot Tanjungbalai nonaktif M Syahrial. Namun, menurut Kurnia, hukuman itu beda persoalan dengan persoalan kebohongan yang disampaikan Lili.

"Penting untuk kami tekankan, objek pemeriksaan Dewas berbeda. Sanksi pemotongan gaji Saudari LPS berkaitan dengan komunikasinya bersama mantan Walikota Tanjungbalai (pihak berperkara di KPK), bukan konferensi pers," katanya.

Terkait hal ini, Kurnia menilai Dewas KPK bertindak seperti tameng pimpinan KPK. Dewas disebut sebagai benteng pengaman pimpinan KPK saat ini.

"Lagi-lagi kami melihat Dewas bertindak menjadi benteng pengaman Pimpinan KPK," ucapnya.

ICW Desak Lili Mundur

Lantaran terbukti melakukan tindakan bohong, ICW pun menuntut agar Lili segera mengundurkan diri. Dia berpesan agar Dewas KPK bersikap objektif, transparan dan berani dalam menindak kasus di internal KPK.

"ICW meminta agar Saudari LPS segera mengundurkan diri sebagai Pimpinan KPK. Sebab, dirinya sudah tidak pantas lagi menduduki posisi sebagai pimpinan KPK," tegasnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT