Bocah 9 Tahun Jadi Saksi Lia, Akui Dibakar 2 Kali
Senin, 29 Mei 2006 14:10 WIB
Jakarta - Gazani Karamina alias Eneng (9) tidak mampu menyembunyikan ketakutannya saat melihat Lia Aminuddin alias Lia Eden. Namun ia harus tetap bersaksi. Dalam kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Jalan Gajah Mada, Jakarta, Senin (29/5/2006) itu, bocah kelas 3 SD itu mengaku sempat tinggal selama 3 tahun di markas Kerajaan Tuhan atau God's Kingdom.Dia tinggal di markas tersebut sejak kelas 1 SD sampai akhir 2005 bersama ibu dan seorang kakak laki-lakinya.Karena dianggap pernah berbohong, suatu hari, aku Eneng, mulutnya dibakar oleh ibunya dan Lia."Mulut dibakar pakai colokan kompor yang diberi spiritus kemudian dinyalakan korek api. Tangan saya diikat dengan tali rafia dan dipegangi kakak saya, kaki saya dipegangi ibu," beber Eneng.Eneng mengaku ketakutan saat dibakar. Ia sempat menangis tapi tidak berani melarikan diri. Selama 2-3 hari sejak mulutnya dibakar, ia mengaku susah makan dan hanya bisa minum.Saat ditanya hakim apakah ia ingat kebohongan yang dilakukannya, Eneng yang tidak menuturkan kapan persisnya kejadian itu mengaku tidak ingat."Nggak tahu, tapi waktu itu saya dibakar karena telah berbohong," katanya.Selain di mulut, Eneng juga mengaku pernah dibakar di bagian kepala. Sebelum dibakar, kepalanya digunduli kemudian diolesi spiritus dan dibakar."Hampir semua anggota komunitas Eden juga dibakar di bagian kepala," katanya.Saat ia menanyakan hal itu kepada kakaknya, Ghazian Kalingga Murdani (12), Ghazian menjelaskan bahwa ritual itu untuk menyucikan diri mereka.Saat anggota komunitas dibakar kepalanya, Lia hanya melihat saja sambil duduk di singgasananya.Menanggapi kesaksian Eneng, Lia mengaku seluruh komunitas Eden memang dibakar di bagian kepala untuk menyucikan diri. Mereka dibakar setelah bersumpah kepada Tuhan tidak akan melakukan dosa sekecil apa pun."Dan waktu pembakaran itu tidak dengan api menyala, entah ini skenario dari mana, tadi dia (Eneng) mengatakan bakar dengan api," kilah Lia.Dijelaskan Lia, kalau anggota komunitas tidak ada dosanya, maka saat kepalanya dibakar ia tidak akan merasakan sakit. Sedangkan yang kesakitan berarti dosanya banyak. Soal mulut Eneng yang dibakar, Lia menerangkan, itu dilakukan karena Eneng dianggap sudah keterlaluan. "Dia anak yang sangat suka berbohong, karena itu dia dibakar," tegasnya.Eneng sendiri tampaknya masih ketakutan dengan sosok Lia. Dia nyaris tidak menengok ke arah Lia. Kalau pun melihat Lia dia hanya melirik takut-takut.Setelah keluar dari ruang sidang, bocah berperawakan kecil dan berkerudung itu langsung menangis dan memeluk bapaknya yang kebetulan mengantarkannya. "Ibu Lia bohong," tandas dia.Orangtua Eneng sudah bercerai. Saat masuk dalam Komunitas Eden, Eneng ikut ibunya. Namun setelah Lia ditangkap karena penodaan agama, Eneng kini tinggal dengan bapaknya di Bandung.Saat ini, kakak laki-laki Eneng, Ghazian yang duduk di bangku SD kelas 6 juga tengah didengarkan kesaksiannya.
(umi/)











































