Hari Kartini Tanggal Merah atau Bukan? Cek Lagi Kalender Jelang 21 April

Syena Meuthia - detikNews
Rabu, 20 Apr 2022 14:19 WIB
Paper desktop calendar 2022 schedule with tea cup on wooden desk
Hari Kartini Tanggal Merah atau Bukan? Cek Lagi Kalender Jelang 21 April (Foto: Getty Images/iStockphoto/Boonyachoat)
Jakarta -

Hari Kartini tanggal merah atau bukan masih banyak dipertanyakan masyarakat. Pasalnya peringatan tersebut merupakan hari besar nasional.

Lalu apakah Hari Kartini tanggal merah? detikcom merinci penjelasannya sebagai berikut.

Hari Kartini Tanggal Merah atau Bukan? Cek Lagi SKB 3 Menteri Ini

Seperti yang kita tahu bersama, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Alasannya karena didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 108 tahun 1964 yang ditandatangani oleh Sukarno pada tanggal 2 Mei 1964.

Melansir dari Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Sekretariat Kabinet (Setkab) RI, Surat Keputusan Presiden tersebut menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Namun, mengutip dari Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri terbaru tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2022 tidak memasukkan tanggal 21 April sebagai tanggal merah. Dengan demikian, Hari Kartini bukan tanggal merah yang ditetapkan oleh pemerintah.

Hari Kartini Tanggal Merah atau Bukan? Simak Juga Biografi RA Kartini

Mengutip dari laman resmi Kemendikbud, Kartini adalah pahlawan Indonesia yang memperjuangkan hak-hak emansipasi perempuan pribumi yang tidak mendapatkan kesetaraan dengan kaum laki-laki, khususnya di bidang pendidikan. Melihat kondisi tersebut, Kartini sebagai putri bangsa tergerak untuk peduli dengan pendidikan perempuan di zamannya yang tidak bisa mengenyam bangku pendidikan seperti dirinya.

Raden Ajeng (RA) Kartini memperoleh pendidikan karena lahir sebagai anak bangsawan dari ayahnya yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Kartini bersekolah di Europese Lagere School (ELS) sampai berusia 12 tahun. Melalui sekolah tersebut, Kartini mempelajari berbagai hal, termasuk bahasa Belanda.

Pada masa lalu, di Indonesia masih terdapat kebiasaan turun temurun yang dilakukan yaitu anak perempuan yang sudah berusia 12 tahun harus tinggal di rumah untuk dipingit. Walaupun dalam keadaan tersebut, Kartini tetap mempunyai keinginan untuk belajar.

Melalui kemampuan bahasa Belandanya, Kartini gunakan untuk membaca buku serta menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satu yang sering dijadikan teman bercerita Kartini adalah Rosa Abendanon.

Dari komunikasinya dengan Abendanon tersebut, timbul ketertarikan Kartini untuk bisa berpikir maju seperti perempuan Eropa. Bukan hanya untuk dirinya, Kartini juga hendak memajukan perempuan pribumi yang kala itu masih banyak dibatasi oleh adat istiadat kuno.

Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dinikahkan oleh keluarganya dengan Bupati Rembang bernama KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Di mana sebelum menikah dengan Kartini, ia sudah pernah mempunyai tiga istri.

Setelah menikah, suaminya tersebut bukan menjadi sosok penghalang untuk Kartini memperjuangkan keinginannya memajukan pendidikan perempuan pribumi. Sang suami mendukung penuh mimpi-mimpi Kartini, salah satunya membangun sekolah khusus wanita.

Sekolah khusus wanita tersebut berlokasi di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Sejak saat itu, Kartini aktif berperan memajukan pendidikan perempuan Indonesia.

Bukan hanya aksi nyata sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pendidikan perempuan Indonesia, pemikiran-pemikirannya tentang emansipasi perempuan juga sering ia tuliskan.

Kartini mempunyai seorang putra bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang ia lahirkan pada 13 September 1904. Berselang empat hari sehabis melahirkan, Kartini meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904. Kartini meninggal pada usia muda yakni 25 tahun. Jasadnya dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Setelah kematiannya, surat-surat yang Kartini tuliskan selama masa hidupnya dikumpulkan dan diterbitkan oleh Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajaan Hindia Belanda yaitu J.H Abendanon. Kemudian tulisan-tulisan itu disusun ke dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis tot Licht).

Buku itu diterbitkan pada tahun 1911 dengan bahasa Belanda sehingga tidak banyak warga pribumi yang bisa membacanya. Namun pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi terjemahan dengan bahasa Melayu.

Demikian informasi Hari Kartini tanggal merah atau bukan yang harus kalian ketahui. Apa makna Hari Kartini versi kamu?

(izt/imk)