Wakil Ketua MPR Sayangkan Pernyataan Menkeu Anggap Utang Masih Aman

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Senin, 18 Apr 2022 08:53 WIB
Wakil Ketua MPR Syarief Hasan
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Syarief Hasan menyayangkan pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menganggap utang Indonesia masih dalam kondisi aman. Pasalnya, utang Indonesia pertama kalinya mencapai lebih dari Rp 7.000 triliun.

Dalam Laporan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang Indonesia telah menembus Rp 7.014 triliun terhitung pada Februari 2022. Dengan jumlah tersebut rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) kini menjadi 40,17%.

Syarief menilai pernyataan Sri Mulyani tidak peka dengan kondisi keuangan Indonesia.

"Indonesia kini diterpa berbagai isu kenaikan harga bahan pokok, hingga kesulitan ekonomi akibat Pandemi COVID-19, ditambah utang. Tetapi, Menteri Keuangan hanya memberikan pernyataan aman tanpa mengambil langkah solutif untuk menekan utang," ujar Syarief Hasan dalam keterangannya, Senin (18/4/2022).

Ia juga memberikan data dari BPK RI yang beberapa kali telah mengingatkan potensi gagal bayar utang Indonesia. "Dalam Hasil Review atas Kesinambungan Fiskal, BPK RI menyebutkan terjadi tren penambahan utang Indonesia dan biaya bunga yang melampaui Produk Domestik Bruto (PDB) sehingga berbahaya bagi kondisi fiskal nasional. Ini bertentangan dengan penyataan Menkeu yang tidak solutif," imbuh dia.

Ia menyebutkan, pengelolaan keuangan negara dewasa ini semakin memprihatikan. Menurutnya, dari berbagai kajian akademis menunjukkan bahwa rasio debt service terhadap penerimaan mencapai 46,77% dan rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan mencapai 19,06%, atau melampaui rekomendasi IMF.

"Ini tentu hal yang berbahaya bagi keuangan negara," lanjutnya.

Ia mengingatkan pemerintah agar memperhatikan kondisi keuangan negara dan melakukan langkah untuk menekan utang.

"Indikator kerentanan utang Indonesia berasal dari hasil kajian BPK yang menyebutkan bahwa utang Indonesia melampaui batas rekomendasi International Monetary Fund (IMF) dan International Debt Relief (IDR)," ucapnya.

Ia juga menilai kenaikan utang ini akan merugikan rakyat. Sebab, pemasukan yang diperoleh dari rakyat digunakan sebagian besarnya untuk membayar utang dan bunga utang.

"Padahal, harusnya lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat," pungkasnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan rasio utang Indonesia aman karena relatif rendah dibanding negara lain. Kondisi berbeda dialami Sri Lanka yang mengalami krisis parah hingga mengumumkan gagal bayar utang luar negeri US$ 51 miliar atau Rp 729,3 triliun (Kurs Rp 14.300).

"Rasio utang kita termasuk yang relatif rendah baik diukur dari negara-negara ASEAN, G20 atau bahkan seluruh dunia," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK secara virtual, Rabu (13/4/2022).

(prf/ega)