Alat Pemantau Rusak Berat, Bahaya Merapi Intai Warga
Minggu, 28 Mei 2006 18:18 WIB
Klaten - Warga Jateng dan Yogyakarta masih harus mewaspadai potensi bencana lainnya. Karena hingga saat ini aktivitas Merapi masih tetap tinggi dan statusnya masih 'awas'. Padahal peralatan milik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) mengalami kerusakan parah akibat dihatam gempa. Dikhawatirkan, aktivitasnya tidak lagi bisa dipantau.Informasi dan kekhawatiran disampaikan oleh Camat Selo, Boyolali, Dahat Wilarso. Menurutnya, dari laporan yang dia terima menyebutkan peralatan milik BPPTK Yogyakarta yang dipasang untuk memantau aktivitas Merapi mengalami kerusakan parah akibat gempa Sabtu (27/5) kemarin."Kalau terjadi peningkatan aktivitas yang membahayakan di Merapi, akan kesulitan untuk memantaunya. Dengan demikian maka juga akan menyulitkan bagi kami untuk melakukan antisipasinya," papar Dahat, Minggu (28/5/2006).Aktivitas Merapi memang telah dinyatakan dalam status awas semenjak 13 Mei lalu. Daerah rawan terlanda bencana Merapi adalah Sleman, Magelang, Klaten dan Boyolali.Selain alat pemantauan Merapi, di Kabupaten Boyolali kerusakan yang diakibatkan gempa Sabtu kemarin juga tidak sedikit. Setidaknya 765 unit rumah warga dan bangunan publik roboh. Tiga warga Boyolali dilaporkan meninggal, kesemuanya dari Kecamatan Sawit.Di Boyolali, Kecamatan Sawit memang menderita kerugian paling besar akibat gempa tersebut. Total rumah roboh di Sawit mencapai lebih dari 600 unit. Di tuga desa yakni Kesatriyan, Cepokosawit dan Kenteng, 90% bangunan rusak parah.Daerah lain yang juga mengalami kerusakan adalah di kecamatan Musuk, Cepogo, Banyudono, Teras, Selo dan Mojosongo.Terima EksodanSelain itu, Boyolali juga masih harus memikirkan nasib warga dari Boyolali dan DI Yogyakarta yang memilih mencari selamat di daerah tersebut. Kedatangan warga dalam jumlah besar masih terus terjadi hingga Minggu siang.Bupati Boyolali Sri Moeljanto, telah memerintahkan kepada Satlak Penangulangan Bencana untuk memperhatikan nasib para pengugsi dari Klaten dan Yogyakarta, selain juga memikirkan nasib warganya sendiri yang sedang menderita."Semua kebutuhan logistik pengungsi pendatang maupun warga asli Boyolali akan kami tanggung. Kami persilakan jika pengungsi daerah lain ingin menetap sementara di Boyolali. Kami bisa merasakan trauma pengungsi yang untuk sementara waktu tidak ingin tinggal di daerahnya," ujar Moeljanto. Lebih lanjut dia mengatakan, sebagian personel anggota Satlak Boyolali untuk bencana Merapi telah ditarik turun dan diperintahkan agar langsung menangani pengungsi korban gempa. Sebagian lainnya tetap dipertahankan di Merapi karena hingga saat ini aktivitas gunung tersebut masih tinggi dan masih dinyatakan dalam status 'awas'.
(ary/)











































