Ketika Yogya Menghabiskan Malam dengan Beratapkan Langit

Ketika Yogya Menghabiskan Malam dengan Beratapkan Langit

- detikNews
Minggu, 28 Mei 2006 17:04 WIB
Yogyakarta - Sabtu, 27 Mei pukul 21.00 WIB malam. detikcom menelusuri jalan-jalan di kota Yogyakarta, menyaksikan sebuah pemandangan yang sungguh menyentuh hati. Warga bersama-sama tidur beratapkan langit.Cemas menjadi gejala psikologis yang lumrah buat penduduk yang buminya diguncang gempa berkekuatan 5,9 skla Richter itu. Maklumlah, meskipun gempa berlangsung kurang dari satu menit, tapi mampu meratakan bangunan dengan tanah dan mengambil ribuan nyawa manusia.Ditambah terjadinya beberapa gempa susulan sepanjang pagi sampai petang hari -- sedikitnya lima kali -- warga Yogya memutuskan tidak tinggal di dalam rumah/bangunan di malam hari. Biarlah mereka, anak-anak mereka, berselimutkan angin malam yang katanya jahat, asalkan tidak terperangkap bahaya lebih besar kalau-kalau gempa datang lagi saat mereka tidak terjaga.Maka didirikanlah tenda-tenda di gang-gang atau lapangan-lapangan. Setelah langit mulai gelap, tikar, terpal, kasur-kasur beserta bantal-gulingnya diseret dan dikeluarkan dari dalam rumah. Lampu-lampu dihidupkan, sementara kawasan yang listriknya masih padam diterangi sinar temaran seadanya dari lilin atau obor.Sepertinya umat manusia memang lebih mudah bersatu saat ditimpa kesusahan. Begitupun di Yogya. Tampak betul kebersamaan mereka terpancarkan dari segala aspek. Tidak ada gengsi, tidak ada perbedaan status, semua berkumpul, tak mau jauh dari yang lain dalam suasana mencekam ini.Sebagian bapak-bapak dan pemuda tampak berjaga-jaga di ujung gang atau poskamling, memberi penghalang agar sepeda motor apalagi mobil tidak melewati daerah itu, supaya para wanita, anak-anak dan orangtua yang mulai tertidur di bawah terpal, tidak terusik suara knalpot.Sebaliknya, mereka yang di atas kendaraan pun tidak menekan gasnya dalam-dalam karena di pinggir-pinggir jalan, di emper-emper toko sampai di trotoar-trotoar depan rumah, berjejer-jejer manusia yang ingin sejenak melepas segala keletihan dan sengsara siang tadi, walaupun bayang-bayangnya dipastikan masih menjadi hantu dalam tidur mereka.Di Jalan Wijilan, seorang ibu mendekap anaknya yang masih kecil yang tergolek lugu di depan rumah mereka sendiri, yang pintunya dibiarkan terbuka. Di bawah jembatan Kali Code Jalan Sudirman, di deretan rumah kumuh, dua lelaki tidur terlentang di atas sebuah bangunan yang rusak, menghadap langsung pada langit.Malam itu langit memang cukup cerah. Bintang cukup banyak berserakan di angkasa hitam. Semestinya ini menjadi momen senyap yang menenangkan, mengharukan sekaligus menggetarkan hati bagi yang melihat dan mau memikirkannya, betapa manusia sungguh tidak ada apa-apanya jika alam sudah bicara.Di areal keraton Yogya, Alun-alun utara maupun selatan penuh dengan manusia. Kebanyakan mereka adalah pengungsi dari pinggiran Yogya seperti Bantul, Klaten, Kulonprogo dan lain-lain. Mereka mengungsi ke pusat kota dengan naik kendaraan umum, truk, mobil bak terbuka, mobil pribadi, sampai sepeda motor. Tak heran motor dan mobil ikut "bermalam" bersama pemiliknya di alun-alun itu.Para pedagang kecil yang biasa mangkal di kawasan tersebut, seperti penjual ronde dan angkringan, juga tidak keberatan menyisihkan terpalnya untuk dinaungi saudara-saudaranya itu. Malam itu semua warga tampak betul-betul menyatu.Mereka yang belum (atau tidak bisa) tidur, sebagian bercakap-cakap dengan yang lainnya. Umumnya mereka bertukar pengalaman ada di mana dan sedang apa ketika gempa terjadi. Dalam momen-momen seperti ini pun selalu ada romantisme. Beberapa anak muda terlihat menyempatkan diri bermanja-manjaan dengan pasangannya. Sementara ada pula yang hanya bisa terdiam dalam pandangan kosong. Mungkin masih dirundung trauma dan tak tahu besok harus berbuat apa dengan keluarganya yang tidak lengkap lagi, atau sebagian harta bendanya telah ditelan bumi.Mulai tepat tengah malam, rintik-rintik air mulai turun dari langit. Gerimis. Warga perumahan akhirnya kembali ke dalam rumah masing-masing, tapi sebagian pintu depan masih tetap dibiarkan terbuka. Yang di emper-emper toko mencoba bertahan walaupun titik-titik air membuat merekamakin merapat dengan dinding.Di Alun-alun, terlebih setelah hujan turun deras pada pukul 2.30, para pengungsi pindah ke Pagelaran, salah satu ruangan utama keraton. Yang bermobil masuk ke dalam kendaraannya, yang tak kebagian tempat segera menyalakan mesin motornya dan pergi mencari tempat berlindung lain di luar alun-alun.Hujan berhenti hampir pukul tiga pagi. Tanah dan jalan-jalan sudah basah. Mungkin hujan juga bahasa lain dari alam untuk membawakan kabar baik, bahwa badai ini pasti akan berlalu.Yogya, kami bersamamu. (a2s/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads