Korban Gempa Mengeluh, Ambil Bantuan Harus Bawa KTP
Minggu, 28 Mei 2006 15:20 WIB
Jakarta - Meski Yogyakarta adalah kota besar yang cukup dekat dengan Jakarta, namun penanganan korban gempa sangatlah amburadul. Bantuan yang tiba baru sedikit. Bahkan untuk mendapatkan bantuan itu, korban gempa harus menunjukkan KTP atau tanda pengenal lainnya."Padahal KTP saya ada di rumah. Sedang rumah saya ambruk," kata Diah, korban gempa dari Desa Banyakan, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, dengan nada jengkel, Minggu (28/5/2006) pada detikcom. Informasi pemberian bantuan juga simpang siur. Ada yang bilang bantuan bisa diambil di rumah dinas bupati. Tapi ketika Diah ke sana, dia hanya ditemui penjaga rumah dinas. Tidak ada bantuan yang disalurkan. Petugas kelurahan dan kecamatan juga tidak ada yang menyambangi ke kampungnya yang ada di pelosok. Buntutnya, hingga kini Diah mengaku belum tahu persis bagaimana wujud bantuan yang telah datang.Akhirnya, Diah hanya mengandalkan saudara-saudaranya sendiri. Dia juga tidak yakin dana bantuan kemanusiaan yang dihimpun para dermawan tidak akan sampai ke tangan korban. Kalau pun sampai, birokrasinya sangat ketat."Saya minta kepada saudara-saudara saya daripada mereka nyumbang tapi nggak pasti sampai, mending langsung ke rekening saya saja," kata pegawai sebuah BPR ini.Perempuan 29 tahun ini juga menceritakan, saat ini sebagian tetangganya mengalami pusing-pusing dan mual-mual. "Soalnya gempa susulan terjadi secara ajeg berselang beberapa menit," jelasnya.
(arn/)











































