Rindu Kumpul dengan Keluarga

Pengungsi Gempa

Rindu Kumpul dengan Keluarga

- detikNews
Minggu, 28 Mei 2006 12:15 WIB
Yogyakarta - Gunawan sudah terbiasa hidup berjauhan dengan keluarganya. Tetapi musibahmembuatnya begitu ingin berada bersama mereka. Sayangnya seperti apa nasib mereka, Gunawan belum mengetahuinya. Saat gempa bumi melanda Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (27/5/2006) pagi, Gunawan masih terlelap di tempat kerjanya, sebuah toko jam di daerah Purworejo. Guncangan hebat itu membuat belasan jam dinding yang terpajang berjatuhan, pecah berantakan.Setelah gempa susulan terjadi kurang dari sejam kemudian, pemuda berusia 19 tahun ini akhirnya memutuskan mengungsi seperti halnya ribuan warga di daerah pinggiran Yogya. Majikannya pun mengizinkan dan bahkan tidak memberi batasan waktu kapan kira-kira mulai bisa bekerja lagi.Yang langsung melintas di benak Gunawan dalam suasana mencekam itu adalah mengungsi ke rumah kakak laki-lakinya di Jl. Bintaran Kidul, tak jauh daripusat kota Yogya. Namun ia baru bisa meninggalkan Purworejo pada sore hari karena kesulitan mencari angkutan yang selalu diserbu warga dengan tujuan sama.Sungguh tidak beruntung, sesampainya di Yogya Gunawan mendapati rumah kakaknya terkunci. "Saya tidak tahu, Mas, mereka sekarang di mana. Mungkin langsung pulang ke kampung orangtua di Gunung Kidul," tuturnya kepada detikcom.Menghubungi keluarga di Gunung Kidul pun telah dilakoni Gunawan, tapi hasilnya sia-sia karena jaringan telekomunikasi mengalami gangguan. Namun ia cukup cemas karena gempa pun kabarnya sampai ke kawasan tersebut, meskipun efeknya tidak terlalu besar.Sebaliknya, ia juga berharap ada pihak keluarga menghubungi dirinya melalui telepon selular. Tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung menjadi kenyataan.Akhirnya Gunawan, seperti ribuan orang lainnya, memilih Alun-Alun Keraton sebagai tempat mengungsi. Semalaman ia memikirkan nasib keluarganya, yang juga tidak tahu mengenai keadaannya. Rasa rindu tiba-tiba menyeruak dalam dirinya."Selama ini saya kurang dekat dengan keluarga. Saya ini waktu kecil orangnya bandel. Dari umur 12 saya biasa pergi, tidak tinggal dengan orangtua. Mereka juga sering nyuekin saya. Sekarang saya kepingin betul pulang, Mas," ujarnya pelan.Obrolan terhenti ketika hujan turun dengan cukup deras sekitar pukul setengah tiga pagi. Gunawan, yang tidak menjumpai seorang pun kenalannya di Alun-Alun, kemudian meringkuk di emperan kios menatap kosong butir-butir air hujan yang bias oleh kuning lampu jalanan.Beralaskan kardus mie instan yang diberikan pemilik kios, Gunawan kemudian merebahkan tubuhnya. Penat fisik dan letih pikiran pasti bercampur aduk pada dirinya. Selang lima menit ia tertidur, menunggu esok hari saat ia memutuskan pulang ke rumah orangtuanya di Gunung Kidul, berharap tidak terjadi sesuatu pada mereka dari musibah yang mengerikan ini. (iy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads