ADVERTISEMENT

Bela Luhut, Apdesi Sesalkan Masinton Desak Menko 'Big Data' Mundur

Wildan Noviansyah - detikNews
Selasa, 12 Apr 2022 19:19 WIB
luhut binsar
Luhut Binsar Pandjaitan (Ardian Fanani/detikcom)
Jakarta -

Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) Apdesi Muhammad Asri Anas angkat bicara soal anggota DPR RI Fraksi PDIP Masinton Pasaribu yang mendesak menko 'big data' mundur. Asri menilai pernyataan Masinton menyerang Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.

Menurut Asri, ungkapan yang dikeluarkan Masinton merupakan serangan terhadap pribadi Luhut Binsar Pandjaitan. Terkhusus ada kesan pernyataannya yang meminta Luhut untuk mundur.

"Saya menyesalkan pernyataan Masinton Pasaribu anggota DPR RI Fraksi PDIP yang terkesan menyerang secara pribadi Luhut Binsar Panjaitan yang merupakan ketua dengan penasihat DPP Apdesi," kata Asri dalam keterangannya, Selasa (12/4/2022).

"Apalagi membuat pernyataan meminta mundur dari seluruh jabatan yang ditugaskan Presiden Joko Widodo," imbuhnya.

Asri juga menyinggung bahwa Masinton harusnya memahami beberapa hal. Salah satunya terkait isu jabatan tiga periode presiden.

"Penundaan pemilu atau jabatan 3 periode adalah domain parlemen apakah dapat dilakukan atau tidak itu hak konstitusi parlemen, dinamika, dan aspirasi masyarakat yang ditangkap oleh pembantu presiden dan disampaikan ke publik adalah wajar dan lumrah," kata dia.

Selain itu, Asri menyebut sikap Masinton tidak beretika dan terkesan menyerang kabinet Jokowi. Menurut Asri, anggota Dewan seharusnya menjaga perkataannya di ruang publik.

"Sebagai anggota dewan dari partai pengusung Presiden Jokowi, harusnya Masinton punya etika di ruang publik, jangan asal bicara atau asal menyerang kabinet Jokowi. Itu sama saja melecehkan presiden," tuturnya.

Asri mengatakan ucapan Masinton yang menganggap 'Luhut congkak' menggambarkan Masinton harus belajar etika berkomunikasi. Menurutnya, melontarkan kritik terhadap pembantu presiden ada mekanismenya.

"Masinton masih harus belajar etik komunikasi. Yang seharusnya kalau Masinton memahami posisi dalam ruang partai pengusung, melontarkan kritik kepada pembantu presiden ada jalur dan mekanismenya," kata dia.

Lanjut Asri, ucapan Masinton memberi kesan kecemburuan dan meragukan otoritas Presiden Jokowi dalam menunjuk seseorang dalam kabinetnya.

"Publik akan menilai bahwa ada kesan kecemburuan terhadap Bapak Luhut Binsar Pandjaitan dari Masinton atau kelompok yang diwakili Masinton, dengan amanah dan kepercayaan presiden kepada Bapak Luhut. Dan itu sama saja meragukan otoritas presiden yang punya hak sepenuhnya mau menunjuk siapapun yang dianggap Mampu bekerja membantu tugas tugas presiden," jelasnya.

Lihat juga video 'Momen Luhut Hampiri Mahasiswa UI, Debat soal Big Data':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT