Tunggui Soeharto, Wartawan Nikmati Malam di RSPP
Sabtu, 27 Mei 2006 05:50 WIB
Jakarta - Waktu sudah menunjukan pukul 01.00 WIB. Hujan turun dengan derasnya. Pelataran yang tak dilindungi atap, cepat basah tergenang air. Udara mulai terasa dingin, tapi itu tak menyurutkan semangat para wartawan menjalankan tugas mereka. Menunggu kabar, perkembangan kesehatan mantan orang nomor satu di Indonesia, Soeharto.Ya, dua minggu belakangan, mantan Presiden Soeharto dirawat di rumah sakit ini. Seperti malam-malam yang telah lewat, beranda pintu utama rumah sakit pusat pertamina (RSPP) yang terletak di Jl Kyai Maja, Jakarta Selatan, pada Sabtu (27/5/2006) dini hari, kembali disulap jadi tempat pemondokan. Tidak heran, karena 24 jam wartawan dengan setia menunggu, setiap detik perkembangan kesehatan sang mantan presiden itu.Wartawan yang kebagian liputan malam, memang kerap mondok di RSPP. Beralas koran bekas, para wartawan ini mengisi waktu mereka dengan berbagai macam kegiatan, ada yang ber sms ria dan ada juga yang mengobrol. Tapi yang tak kuat menahan kantuk langsung tidur. "Sudah 3 hari tidur kayak gini, badan pada sakit rasanya. Kok paginya lama ya," kata Nizma seorang reporter TV sambil memejamkan mata, berbaring di sebelah pintu masuk.Nizma tak sendirian, di pojok kanan pintu pun, telah bergolek terbuai mimpi, dua orang kameramen TV. Derasnya hujan, tak mengusik keasyikan mereka. Cukup berbalut jaket, berbantalkan tas ransel, nikmat rasanya. "Lumayan istirahat walau cuma 2-3 jam," ujar salah seorang teman wartawan yang juga siap menuju pembaringan.Sementara yang masih kuat matanya dan enggan tidur, mengobrol menjadi menu favorit. Bertukar pengalaman, berbagi kisah liputan menjadi bahan perbincangan yang tak habis-habisnya."Kita di sini cuma menjalankan protap, perintah atasan," ujar seorang wartawan radio Lala sambil tersenyum, yang diamini temannya Asep seorang wartawan cetak.Petugas pengamanan RSPP, tampak welcome dengan kehadiran para wartawan, yang berhamparan di depan pintu utama. Mereka juga kadang-kadang turut berbincang bersama para wartawan. "Biasanya kalau tidak ada wartawan yang nongkrong, pintu ini kita kunci. Kita berjaga di IGD (instalasi gawat darurat)," tutur seorang Satpam yang enggan disebutkan namanya.Tawa dan canda, masih terdengar jelas di ujung kiri pintu masuk. Sekelompok wartawan tampak asyik bermain kartu, tanpa unsur judi pastinya. Pagi semakin menjelang, namun matahari belum terlihat cahayanya.
(ndr/)











































