Sebelum Meninggal, Sudi Achmad Bikin Pledoi Berkarikatur
Rabu, 24 Mei 2006 16:45 WIB
Jakarta -
Sudi Achmad, terdakwa kasus suap MA, telah meninggal dunia karena hernia pada Senin 22 Mei. Salah satu warisan yang ditinggalkannya adalah naskah pledoi (pembelaan) yang rencananya akan dia bacakan dalam sidang Rabu (24/5/2006) di Pengadilan Tipikor.Pledoi itu memang tidak jadi dia bacakan. Namun berkasnya beredar di kalangan wartawan. Disebut-sebut teman satu sel Sudi di Rutan Polda Metro Jaya yang memberikan berkas pledoi itu pada wartawan.Naskah pledoi itu terdiri dari 13 halaman dan diketik komputer rapi. Yang menarik, 9 halaman di antaranya merupakan gambar karikatur dengan judul "premanisme pemberantasan korupsi". Karikatur itu juga digambar dengan komputer dan berisi 'analisis' sarjana hukum itu tentang konspirasi jahat yang membuatnya diadili.Di halaman kedua pledoi itu, Sudi menceritakan penderitaan hidupnya selama menjadi tahanan KPK di Mapolda Metro Jaya. "Selama dalam dalam tahanan, sepertinya saya tidak pantas dengan predikat 'koruptor. Bahkan beberapa teman tahanan umum banyak yang mengejek saya yang intinya ketidakpantasan saya sebagai 'koruptor' karena predikat yang menjadi tahanan KPK lazimnya mendapat predikat koruptor. Bahkan di antara mereka ada yang menyebutkan, apa KPK tidak salah tangkap? Namun ejekan yang saya terima tersebut saya terima dengan ikhlas," curhat Sudi Achmad.Sudi yang mengaku bergaji Rp 1,2 juta/bulan ini menyatakan, apa yang telah diperbuatnya sehingga dia diadili, lebih karena untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dan dengan penahanannya itu, hidup keluarganya kian amburadul.Sudi juga mengaku dirinya hanyalah korban penjebakan sebuah 'operasi besar' yang dilakukan KPK bekerjasama dengan Probosutedjo. "Yang saya tangkap dari persoalan ini, KPK ingin menembus para hakim agung, terutama Ketua MA," katanya.Di akhir pledoinya, Sudi menyatakan permintaan maaf kepada pimpinan MA, jajaran MA khususnya pada Bagir Manan, karena telah mencoreng lembaga MA dan membuat Bagir yang tidak bersalah turut repot.Lembar berikutnya adalah karikatur tentang 'konspirasi besar' yang dituduhkan Sudi Achmad. Belum diketahui bagaimana Sudi bisa mengetik rapi plus membuat karikatur seunik itu untuk pledoinya.Foto:Salah satu karikatur Sudi Achmad
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































