ADVERTISEMENT

Dino Patti Djalal Membedah Panasnya Peta Politik di G20

Zunita Putri - detikNews
Senin, 04 Apr 2022 13:09 WIB
Dino Patti Djalal
Foto Dino Patti Djalal: (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Rencana kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin di G20 Bali menuai pertentangan antara sesama anggota G20. Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal membedah potensi konflik yang makin memanas. Dino juga punya solusi untuk pemerintah Indonesia agar bisa keluar dari situasi terhimpit antara kubu Rusia vs Barat.

Peta Geopolitik Terkini

Awalnya, Dino Patti mengungkapkan ada 7 negara yang bersikap menolak tegas kehadiran Rusia di G20 Bali. Tujuh negara itu adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Prancis, Inggris, Italia, dan Jepang.

Tak hanya itu, Dino mengatakan dalam tubuh MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea, Turki dan Australia) juga disebut sudah retak karena PM Australia juga menolak kehadiran Putin di Bali pada November 2022 mendatang. Kemungkinan, lanjut Dino, negara-negara BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) juga menentang kehadiran Rusia.

Menurut Dino, hanya negara Argentina, Meksiko, Arab Saudi dan Korea Selatan yang masih belum diketahui posisinya apakah menolak kehadiran Rusia atau tidak. Yang sudah pasti adalah 14 dari negara G20 mendukung resolusi majelis umum PBB yang menentang invasi Rusia.

"Yang perlu dicermati suasana politik dalam tubuh G20 kini semakin memburuk, sangat buruk, pertikaian geopolitik antara barat dan Rusia sangat tajam, dan serangan sanksi ekonomi semakin gencar. Pemimpin negara barat di G20 tidak mau duduk satu meja dengan Presiden Putin," ujar Dino dalam akun YouTube Sekretariat FPCI, Senin (4/4/2022).

"Kalau Rusia berhasil menaklukan Ukraina dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, maka pertikaian Rusia dan barat akan semakin memuncak. Namun kalaupun ada perdamaian di Ukraina, pertikaian barat dan Rusia ini masih akan terus berlangsung karena sudah menjadi suatu konflik strategis dan sistemik," lanjutnya.

Lalu bagaimana dengan nasib G20 yang akan diselenggarakan di Bali?

Dino menilai meski situasi sedang memanas karena invasi Rusia ke Ukraina, Indonesia harus menjaga keutuhan G20. Dino mengatakan Indonesia harus memanfaatkan modal politik dan diplomatik Indonesia, baik terhadap negara barat, Rusia, Tiongkok dan juga sesama middle powers.

"Kita masih punya modal politik dengan Rusia karena walaupun Indonesia mendukung resolusi PBB yang keras terhadap Rusia, Indonesia tidak menerapkan sanksi terhadap Rusia dan hubungan bilateral Jakarta-Moskow masih terjaga normal. Kita perlu jaga agar pembahasan pilar-pilar G20 terus bergerak yaitu Business 20, Civil 20, Urban 20, Labor 20, Think Tank 20, Science 20, Parliament 20, Youth 20, Woman 20," paparnya.

Saran untuk Pemerintah

Terkait polemik kehadiran Rusia ini, Dino menyarankan Presiden Jokowi dan sejumlah menteri me-lobby sejumlah negara. Lobby ini bertujuan untuk mencari solusi demi keutuhan G20.

"Saya juga menganjurkan Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan, dan Menteri Luar Negeri melakukan zoom diplomasi yaitu lobby melalui teleconference secara intensif dengan pemimpin negara-negara G20 lainnya untuk mencari formula yang dapat menjaga keutuhan G20," kata Dino.

Tak hanya itu, mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini juga meminta Jokowi memanfaatkan KTT Asean di Amerika Serikat. Dia juga menyarankan Jokowi agar mengirim utusan khusus ke Rusia dan Ukraina.

"KTT Asean AS juga perlu dimanfaatkan Presiden Jokowi untuk secara bilateral meyakini Presiden Biden mengenai pentingnya keutuhan G20, pertemuan kedua pemimpin ini merupakan peluang baik untuk bicara blak-blakan mengenai masalah sensitif berkaitan G20. Di luar jalur G20, Presiden Jokowi dapat mengirimkan special envoy dari Indonesia yang dikirim ke Ukraina dan Rusia untuk membantu mencari jalan keluar dari konflik," tuturnya.

Cara itu menurut Dino bukan tidak mungkin bisa dilakukan Indonesia. Dia berharap Indonesia berperan sebagai 'good office'.

"Saya yakin kalau ada inisiatif ini pasti akan diterima baik oleh Rusia dan Ukraina," tegasnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT