Dili Rusuh, 3 Tentara Tertembak
Selasa, 23 Mei 2006 17:50 WIB
Dili - Kontak senjata antara kelompok kontra pemerintah dan Tentara Nasional Timor Leste (FDTL) kembali terjadi. Tiga anggota FDTL dilaporkan tertembak dalam insiden berdarah itu, dan belasan perusuh lainnya luka-luka. Pemerintah Timor Leste belum memberikan penjelasan resmi tentang penyebab perang yang melibatkan institusi bersenjata itu, namun sejumlah sumber menyebutkan masalah pemecatan 591 tentara oleh Panglima FDTL Brigjen Taur Matan Ruak yang berbuntut pada munculnya blok timur yang pro pemerintah dan blok barat yang pro tentara petisi menjadi penyebabnya. Konflik di negara bekas koloni Indonesia ini, kembali terjadi sejak Senin lalu dan terus meluas ke pinggiran kota. "Pusat kerusuhan terjadi di Becora, di sebelah timur Dili, di dekat perbukitan menuju Metinaro. Masih terjadi kontak senjata dan bunyi tembakan terdengar di mana-mana. Belum ada WNI yang mencari perlindungan ke KBRI," ujar Komisaris Besar Polisi Minton Mariaty Simanjuntak, melalui saluran telepon internasional dari Dili, Selasa (23/5/2006) sore. Minton menuturkan, belum diketahui secara pasti penyebab kerusuhan. Informasi yang diperoleh dari Polisi Nasional Timor Leste (PNTL) bahwa tentara petisi kontra pemerintah dan anggota aktif FDTL yang terlibat kontak senjata. Sementara sumber lain mengatakan anggota PNTL anti huru-hara yang terlibat kontak senjata dengan FDTL.Sementara Mayor Alfredo, komandan polisi militer FDTL, dalam keterangan persnya hari ini mengatakan, Timor Leste berada dalam ancaman perang dan bukan sekedar kerusuhan biasa. Mayor Alfredo adalah salah satu perwira di tubuh FDTL yang dituduh oleh PM Mari Alkatiri terlibat dalam kelompok kontra pemerintah dan berupaya melakukan kudeta terhadap pemerintah Xanana Gusmao awal Mei 2006 lalu. Komandan Pasukan Pengamanan Perbatasan RI, Kolonel Artileri Ediwan Prabowo yang dikonfrimasi di Atambua, mengatakan, situasi di perbatasan darat dengan Timor Leste masih kondusif. Belum ada tanda-tanda eksodus WNI atau WNA dalam jumlah besar. "Kemungkinan besok atau beberapa hari ke depan baru akan terjadi eksodus. Penjagaan di perbatasan tetap seperti biasanya," ujar Ediwan.Sebelumnya, lebih dari 700 Warga Negara Indonesia (WNI) di Dili, Ibukota Timor Leste, telah meninggalkan negara itu dan mengungsi ke Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam awal Mei 2006 lalu saat terjadi aksi demonstrasi tentara petisi yang berbuntut pada tewasnya tiga warga sipil dan satu anggota PNTL. Kekerasan itu menyebabkan aktivitas perkantoran sempat lumpuh karena para pegawai pemerintah maupun karyawan swasta yang sebagian warga lokal memilih untuk mengungsi ke luar kota sedangkan warga asing yang sebagain besar diplomat negara sahabat memilih eksodus ke Indonesia.
(nrl/)











































