Aditjondro: Jika Soeharto Wafat, Penguasa Bancakan Harta
Selasa, 23 Mei 2006 14:57 WIB
Semarang - Pakar sosiologi korupsi yang terkenal sebagai pelacak harta kekayaan mantan Presiden Soeharto, George Junus Aditjondro, bersuara lagi. Dia berpendapat, pengusutan terhadap Soeharto pasti tidak dilakukan. Karena dimungkinkan penguasa (pemerintah) tidak akan leluasa 'mengambil' hartanya jika hal tersebut dilakukan. "Penguasa kan bisa bancakan sesudah Soeharto meninggal. Kalau diusut, mereka tidak bisa melakukan itu karena Soeharto terlanjur buka mulut mengenai kekayaannya," kata George kepada wartawan di Hotel Pandanaran, Semarang, Jl. Pandanaran, Selasa (23/6/2006). George menjelaskan, sebetulnya pengusutan terhadap Soeharto sudah dimulai sejak era pemerintahan Gus Dur. Pada saat itu, Gus Dur meminta kejaksaan untuk menginventarisir kekayaan penguasa Orde Baru tersebut, baik di dalam maupun di luar negeri. "Dalam inventarisasi itu, ada temuan soal lapangan golf Tommy di London, villa di New Zealand, dan lain-lain. Data itu sama sekali tidak muncul saat ini. Lalu ke mana data itu?" tanya eks peneliti di Yayasan Geni Salatiga ini. Begitu pula dengan peternakan Soeharto di Tapos, Jawa Barat. Usaha yang menurut Aditjondro diindikasikan hasil kolusi Menteri PU, Menteri Pertanian, dan Gubernur Jabar kala itu relatif aman dari sitaan meski keberadaannya menyalahi UU Agraria soal luas tanah. Soal penanganan korupsi mantan penguasa, Indonesia kalah jauh dibanding Filipina dan Nigeria. "Dua negara itu mampu mengusut dan menyita harta eks diktator. Sementara kita, sama sekali tak bisa. Sebetulnya ini masalah political will saja," terangnya. JK Cucu Kroni Soeharto Ketika ditanya soal pernyataan Jusuf Kalla mengenai sudah adanya penyitaan terhadap yayasan yang didirikan Soeharto, George tak begitu percaya. "Kalau memang ada penyitaan, mana surat terimanya. Itu omong kosong. JK itu kan cucu kroni Soeharto," tegasnya. George menyebut, JK adalah salah satu bagian 'sistem' Soeharto. Ia dikenal dekat dengan Om William (pemilik Astra) dan sudah pasti memanfaatkan fasilitas pemerintah untuk membangun PT Bukaka Teknik Utama atas nama Nariyah Kartasamita. "JK mirip Soeharto. Ia menggunakan fasilitas negara dan menguasai pengusaha serta modal. Karena itu, ia tidak mungkin mengusut Soeharto," kata pria yang kini berpenampilan brewok ini.
(nrl/)











































