Keluarga Soeharto Punya Gejala Megalomania
Selasa, 23 Mei 2006 07:56 WIB
Jakarta - Halimah dan kedua anaknya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus perusakan rumah Mayangsari, istri muda dari Bambang Tri Hatmodjo. Panji bahkan memukul ayahnya sendiri. Apa sebenarnya yang tengah terjadi di dalam keluarga Cendana?Menurut ahli psikologi Sartono Mukadis, memang sering terjadi jika istri tua marah dengan suami dan istri mudanya. Namun yang terjadi dalam keluarga Cendana lebih menunjukkan gejala megalomania. Megalomania dapat didefinisikan secara sederhana sebagai kegilaan (mania) dengan merasa diri besar (megalo). Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, anak-anaknya hidup bergelimang kekuasaan. Apapun yang mereka inginkan mudah didapatkan. "Mereka terbentuk untuk merasa tidak ada langit yang lebih tinggi dari mereka. Bayangkan, rasa percaya diri macam apa yang terbentuk seperti ini," jelas Sartono dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (23/5/2006).Namun kemudian keluarga Cendana mulai berbenturan dengan realitas ketika Soeharto tidak lagi berkuasa. Secara de jure kekuasaan Soeharto luntur. Anak-anaknya mendapati realita segala sesuatunya tidak semudah dulu. Akibatnya situasi emosi menjadi tidak stabil dan rapuh."Mereka seperti hidup di dalam bubble gum (permen karet). Menggelembung besar namun isinya hampa. Jika meletus, mereka menjadi sangat jatuh," lanjut Sartono.Inilah yang diamati Sartono terjadi pada keluarga Cendana. Menurut Sartono, sebenarnya megalomania jarang menimpa seluruh keluarga. Dia membandingkan, Soekarno adalah seorang megalomania, tapi hal ini tidak terjadi dengan anak-anaknya. Sartono berpendapat, hal itu disebabkan anak-anak Soekarno tidak selama anak-anak Soeharto dalam merasakan kekuasaan."Kekuasaan selama 32 tahun, saya rasa memungkinkan megalomania ini terkena seluruh anak-anak Soeharto," paparnya.Sartono menambahkan, kemampuan mengatasi megalomania terpulang pada kekuatan emosi setiap individunya. Konflik di dalam keluarga Cendana bisa diredam jika ada nilai bersama yang dibagi di dalam keluarga, karena figur orangtua tidaklah cukup untuk menyatukan seluruh anggota keluarga.Namun, sifat megalomania membuat tidak adanya nilai yang dibagi di antara mereka. "Sekarang apa nilai yang menyatukan keluarga Cendana? Harta? Kita harus kasihan melihatnya," cetus Sartono.
(fay/)











































