Adi, Alumni IPB Down Syndrome Peraih Medali Atletik, Hingga Bowling

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 27 Mar 2022 19:30 WIB
Jakarta - Ferdhi Ramadhan (27) atau yang akrab disapa Adi adalah orang yang terlahir dengan keadaan down syndrome. Mulanya, kelainan ini diketahui ibunya, Ernim Ilyas pada saat Adi berusia 2 tahun. Ernim curiga, di usia tersebut, Adi belum bisa jalan dan bicara.

"Saya konsultasi ke dokter, ya dokter menyarankan harus periksa keseluruhan, ke jantung, pendengaran. Akhirnya saya periksa semuanya itu, ke paru, jantung, pendengarannya, ternyata Adi normal. Akhirnya saya periksa kromosom, ternyata di kromosomnya ada kelainan," ujar Ernim, dalam program Sosok.

Hidup dengan buah hati spesial, memaksa Ernim untuk memberi perhatian lebih kepada Adi. bukan hanya kesehatan, pendidikan dinilai Ernim penting agar Adi tetap dapat menyongsong masa depan. Untuk pendidikan sang Anak, Ernim menyekolahkan Adi di SLB Bina Karya Insani.

Pertemuannya dengan komunitas olah raga di sekolah mengarahkan jalan hidup Adi menuju dunia olah fisik. Sekitar tahun 2003, berkat pendampingan intensif dari orang-orang di sekitarnya, Adi berhasil menjadi seorang atlet. Bukan tanpa alasan, potensi Adi untuk menjadi atlet dilihat oleh gurunya yang mengajar di SLB Bina Karya Insani. Dari sang guru pula, Adi dikenalkan dengan komunitas Special Olympic Indonesia (SOIna).

"Gurunya menyarankan saya untuk ikut gabung ke SOIna dan latihannya di Rawamangun. Saya cari tahu, dan ternyata memang ada. Sekitar tahun 2003 bergabunglah sama SOIna, Special Olympics Indonesia. Di situlah Adi jadi atlet. Adi atlet bowling, lari, berenang, dan lompat jauh," jelas Ernim.

Berkat torehan prestasinya di berbagai cabang olah raga serta kemampuan dan kemauannya untuk belajar secara akademis, Adi pun berhasil masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Jaminan Mutu Pangan,dengan pendalaman materi pada bidang kuliner.

"Adi kuliahnya tidak sama dengan yang reguler. Adi itu kuliahnya kemarin memang ada program vokasi di IPB. Jadi vokasi itu kalau untuk Adi itu khusus, lebih banyak terjunnya ke praktek. Mungkin boleh dibilang 80% praktek. Teorinya hanya 20%," tutur Ernim, mewakili Adi yang sulit untuk berkomunikasi.

Di sela-sela melihat anaknya latihan melalui jalur daring akibat pandemi, Ernim berharap agar masyarakat bisa melihat lebih dalam tentang potensi anak-anak berkebutuhan khusus seperti Adi.

"Saya ingin para orang tua yang memiliki anak seperti Adi jangan malu atau takut. Mereka punya kekurangan tapi banyak juga kelebihannya. Kelebihan ini yang harus dikembangkan. Semangat!" Ucap Ernim.

(nis/vys)