MUI Minta Peredaran Yasin Bergambar Walikota Ditarik
Senin, 22 Mei 2006 22:45 WIB
Pekanbaru - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pekanbaru, menganjurkan surat yasin bergambar Walikota Pekanbaru yang telah beredar segera ditarik. Hal itu perlu dilakukan agar tidak menimbulkan persoalan di tengah masyarakat. Penegasan itu disampaikan Ketua MUI Pekanbaru, Ilyas Hasti. Menurutnya, pihaknya menerima laporan dari masyarakat akan peredaran surat Yasin bergambar pasangan calon walikota Herman Abdulah (masih menjabat Walikota Pekanbaru-Red) dan calon wali kota Erizal Muluk. "Saya juga sudah menghubungi walikota atas peredaran surat yasin itu. Namun walikota mengaku dia tidak pernah menyebar luaskan surat yasin bergambar dirinya dan calon wakilnya," kata Ilyas saat dihubungi detikcom, Senin (22/05/2006) di Pekanbaru. Dalam surat yasin halaman 3, terlihat nama penyusunan adalah, Ustadz Syahril AW dari Forum Komunikasi Masjid dan Mushola (FKMM) dari Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Berdasarkan keterangan penyusun itu, pihak MUI meminta penjelasan terhadap ustad yang telah mencetak surat yasin tersebut. "Setelah kita tanyakan kepada ustadz itu, dia mengakui pembuatan sekaligus menyebarkan surat yasin tersebut ke warga di Rumbai. Dia juga mengaku, pembuatan yasin itu tanpa ada perintah dari pasangan calon Walikota Pekanbaru," kata Ilyas. Kendati Ustadz Syahril mengaku telah membuat surat tersebut, lanjut Ilyas, pihaknya telah menganjurkan agar peredaran surat yasin segera ditarik dari tangan masyarakat. Hal itu penting, mengingat dalam surat yasin tertuliskan nama pasangan calon walikota yang terkesan menyerukan masyarakat untuk memilih pasangan tersebut. "Demi ketentraman bersama, sebaiknya surat yasin ditarik kembali. Lagi pula, kurang etis rasanya surat yasin dilibatkan dalam persoalan politik," kata Ilyas. Surat yasin bergambar pasangan calon Walikota Pekanbaru Herman Abdulah dan calon wakilnya Erizal Muluk, sudah sepekan yang lalu beredar di Kecamatan Rumbai. Pasangan calon pemimpin nomor satu di Pekanbaru ini, diusung dari partai Golkar. Di halaman terakhir surat yasin, terlihat nomor urut Herman yakni angka dua berwarna kuning, sebagai lambang Golkar. Pada sampul depan, selain foto kedua calon itu, juga dilatarbelakangi mesjid raya Pekanbaru. Di bagian bawah buku bergambar umat muslim yang tengah berzikir bersama. Surat yasin ini kabarnya sudah beredar sebanyak 9.000 eksemplar. Sebagian pihak menilai peredaran surat yasin ini sebagai bentuk curi start kampanye yang dilakukan tim sukses Herman Abdulah. Padahal peraturan yang ada, kampanye baru akan dilakukan dua pekan sebelum pelaksanaan pencoblosan pada 21 Juni 2006 mendatang.
(fay/)











































