'Jibril' Sempat Ancam Akan Cabut Nyawa Saksi
Senin, 22 Mei 2006 18:09 WIB
Jakarta - Bukan Lia Eden kalau aksinya tidak kontroversial. Sebelum penangkapan dirinya, Lia yang mengaku sebagai Jibril ternyata pernah mengancam akan mencabut nyawa Ilham Tabrani. Ilham kini menjadi saksi kasus penodaan agama dengan terdakwa Lia.Ilham adalah pengurus Masjid Meranti yang terletak di kawasan Jalan Bungur, Senen, Jakarta Pusat. Lokasi masjid ini tidak jauh dari markas Komunitas Kerajaan Tuhan atau God's Kingdom pimpinan Lia Eden alias Lia Aminuddin.Dalam kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta, Senen (22/5/2006), Ilham mengatakan, pernah mendapat surat yang isinya nyawa pengurus masjid akan dicabut.Surat itu ditandatangani Jibril. Tapi dari kopnya tertera tulisan God's Kingdom, Kerajaan Tuhan Eden. Surat itu diterimanya pada Desember 2005 lalu.Diceritakan Ilham, surat itu diterimanya saat Masjid Meranti akan menggelar tabliq akbar. Komunitas Eden lalu mengirim surat agar pengurus masjid tidak melanjutkan kegiatan itu. "Kalau tetap melanjutkan, maka akan dicabut nyawanya," kata Ilham.Ketika ditanya pengacara Lia, Saur Siagian, apakah benar ada nyawa yang benar-benar dicabut Jibril? Ilham mengatakan, tidak ada.Menanggapi kesaksian Ilham, Lia membantah pihaknya telah mengirimkan surat ancaman dan membantah telah meresahkan masyarakat Meranti."Selama 8 tahun kami beraktivitas, kami tidak pernah mengirimkan atau menyebarkan risalah kepada tetangga-tetangga. Yang ada, kami pernah mengirimkan surat ke Masjid Meranti terkait isu akan ada massa yang menyerang kami. Surat itu juga dari Jibril," beber Lia yang 'penyakit' tidurnya kini tidak kambuh.Sementara saksi Amin Jamaluddin, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam mengatakan, ia mengetahui Komunitas Eden telah mengirimkan surat Rohul Kudus untuk Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie. Dia juga mengatakan, pernah membaca buku-buku yang ditulis Lia.Mendengar keterangan saksi, Saur kemudian mengundang saksi dan JPU datang ke meja hakim. Ia lalu mengambil semua buku tulisan Lia, dan menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya.Dia lalu melontarkan pertanyaan kepada saksi. "Coba judulnya apa buku-buku itu dan isinya apa?" tanya dia.Saksi merasa keberatan dengan permintaan tersebut, namun kuasa hukum Lia tetap bersikeras dan memaksa saksi mengatakan apa yang diketahuinya.Mendengar itu, para pengunjung sidang yang bukan pendukung Lia langung berteriak mencemooh. Meski ada sorakan-sorakan seperti itu, para pendukung Lia tetap duduk dengan tenang, tidak ada raut kesal sekalipun di wajah mereka.Atas kesaksian dari Amin, Lia menolak menanggapinya. "Kebenaran hakiki dari Tuhan selalu sealur dengan hati nurani dan kebenaran agama mana pun. Biarkan saja semua berpendapat, kebenaran hakiki akan tampil," cetusnya.Sidang yang dipimpin hakim Lief Sofijullah rencananya akan menghadirkan 5 saksi. Namun hanya 4 saksi yang datang. Karena waktunya sudah sore, sidang yang harusnya dimulai pukul 10.00 WIB tapi baru dimulai 15.00 WIB itu diminta dihentikan. Kuasa hukum Lia minta sidang dilanjutkan di hari lain. Hakim akhirnya memutuskan melanjutkan sidang pada Rabu 24 Mei.
(umi/)











































