Liput Soeharto, Wartawan Mati Gaya
Senin, 22 Mei 2006 14:11 WIB
Jakarta - Bukan teman dan bukan saudara, tapi kesetiannya menunggu mantan Presiden Soeharto boleh dibilang luar biasa. Itulah para wartawan yang sudah dua pekan ini meliput di RS Pusat Pertamina (RSPP) memantau kesehatan Soeharto.Para wartawan sebenarnya mengaku bosan juga berhari-hari menunggu di lobi RSPP. Namun karena tuntutan tugas, mereka pun tetap setia berhari-hari dan bahkan berminggu-minggu memantau perkembangan kesehatan Soeharto.Seperti misalnya dialami oleh Dini, salah satu wartawan televisi swasta yang sejak dua minggu ini memiliki pos baru di RSPP. Dini yang biasa meliput di lingkungan Hankam dan Polri mulai membiasakan diri dengan istilah-istilah medis.Jadwal rutin yang selalu dilakukannya selama dua minggu ini adalah sebelum pukul 09.00 WIB pagi sudah harus ada di RSPP untuk mengikuti konferensi pers yang digelar setiap hari oleh tim dokter yang merawat Soeharto.Dibandingkan reporter televisi swasta lainnya, Dini pulang paling lambat, karena biasanya reporter televisi ada penggantian shift sampai tiga kali, yakni pagi hingga siang, siang sampai malam, dan malam hingga pagi."Enak ya pulang duluan," celetuk Dini di RSPP, Jakarta, Senin (22/5/2006), saat temannya dari televisi lain sudah diganti rekannya.Hal yang sama juga dialami oleh Ade, wartawan salah satu media cetak nasional. Sudah dua minggu ini Ade nongkrong di RSPP.Jadwal rutin yang sering dilakukannya setiap hari adalah sekitar pukul 09.00 WIB mengikuti jumpa pers dari tim dokter di ruang auditorium lantai 3.Dokter yang rutin tampil adalah Direktur RSPP Adji Suprajitno, tim dokter kepresidenan Djoko Rahardjo, dan Ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Subiandono yang agak pelit memberikan keterangan.Usai jumpa pers, para wartawan biasanya langsung menunggu para pejabat atau mantan pejabat yang akan menjenguk Soeharto di depan lobi RSPP. Namunbiasanya hingga pukul 15.00 WIB belum ada tamu-tamu yang menjenguk."Ini sampai mati gaya kalau liputan di sini," cetus salah satu wartawan disambut tawa rekan-rekannya.Menginjak pukul 15.00 WIB, ketika wartawan terserang ngantuk berat, justru banyak pejabat yang mulai menjenguk Soeharto. Wartawan pun mulai berpencar, ada yang berjaga di lobi UGD dan juga di lobi RSPP.Itu pun kebanyakan pejabat yang datang tidak akan berkomentar saat baru tiba di RSPP. Alhasil, wartawan menunggu sang pejabat selesai membesuk Soeharto.Kalau wartawan beruntung, sang pejabat usai besuk akan memberikan keterangan terkait perkembangan kondisi Soeharto. Lumayan ada hasilnya.Tapi kalau sang pejabat bungkam, apesnya bukan main. Padahal wartawan sudah berdesak-desakan dan injak-injakan dengan sesama jurnalis maupun pengawal si pejabat.Paling apesnya lagi, sudah ditunggu-tunggu lama, kok sang pejabat yang besuk tak kunjung keluar. Eh ternyata sudah menyelinap lewat pintu belakang saat wartawan lengah. Bisa jadi juga sang pejabat maupun tokoh membesuk Soeharto saat hari masih pagi sekali, saat tidak wartawan.Yang ada, wartawan bukan hanya gigit jari, tapi benar-benar sudah mati gaya.
(san/)











































