Fosil dari Flores Masih Jadi Perdebatan Internasional
Minggu, 21 Mei 2006 02:00 WIB
Jakarta - Sebuah fosil ditemukan oleh tim peneliti Australia dan Indonesia pada 2003 lalu di area pemakaman Liang Bua, Flores, 2003 lalu. Namun, hingga kini, penemuan fosil itu masih jadi perdebatan. Apakah fosil berusia 18.000 tahun lalu itu masuk jenis manusia baru atau masuk homo sapiens? Penemuan fosil ini cukup mendapat sambutan yang baik dari para arkeolog internasional. Bahkan, akhirnya, fosil ini dinamakan dengan Homo Floresiensis atau lebih dikenal dengan nama 'Hobbit'. Penamaan fosil ini karena disimpulkan bahwa fosil di Flores itu merupakan manusia baru, berbeda degan homo sapiens (manusia modern) lainnya, seperti homo erectus. Fosil yang ditemukan hanya berukuran 3 feet dan rongga otak sekitar 400 kubik centimeter - hampir menyamai otak simpanse. Dari pengukuran sedimen, diperkirakan bahwa Hobbit hidup sekitar 18.000 tahun yang lalu. Penemuan ini mendunia karena dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkenal 'Natural' beberapa waktu lalu. Tapi, kesimpulan ini ditentang oleh para peneliti dari Amerika dan Inggris. Salah satu penentangnya adalah Robert Martin, biologis dari The Field Museum, Chicago. Penentangan Robert Martin dipublikasikan dalam Science Magazine 19 Mei 2005 lalu. Menurut Martin, fosil tersebut merupakan manusia modern yang mengalami penyimpangan pengembangan volume otak. Kelainan ini menyebabkan pengecilan perkembangan otak dan terkadang disertai juga dengan penyimpangan perkembangan anggota tubuh yang lain. "Artinya, ini bukanlah manusia baru," kata Martin seperti dikutip BBC, Sabtu (19/5/2006). Pendapat Martin ini dikuatkan oleh Profesor Dean Falk dari Florida State University. Menurut dia, fosil dari Flores yang diberi kode 'LB1' itu bukan tergolong dalam jenis manusia modern, tetapi sebuah temuan baru untuk ilmu pengetahuan.
(asy/)











































