200 Orang Bubarkan Diskusi Soal PKI di Bandung
Sabtu, 20 Mei 2006 14:28 WIB
Bandung - Sekitar 200 orang yang berasal dari berbagai ormas membubarkan paksa sebuah acara diskusi presentasi hasil penelitian korban kekerasan perempuan pada tahun 1965 terutama eks tapol dan napol PKI. Usai penggerebekan, dua orang panitia dimintai keterangan polisi. Acara yang berlangsung di sebuah wisma di Jalan Berantas II, Cihapit, Bandung, Jawa Barat ini diikuti oleh sekitar 80 orang. Sebagian besar mereka berusia lanjut, karena mereka adalah para korban kekerasan yang terjadi pada tahun 1965. Acara baru berlangsung sekitar 2 jam, pada pukul 11.45 WIB, Sabtu (20/5/2006) sekitar 200 orang dari ormas Patriot Pancamarga, Persatuan Aksi Gangguan Regional (Pagar), Forum Komunikasi Pemuda -Pemudi Veteran, Gibas, datang dan langsung membubarkan paksa.Massa tiba di lokasi langsung berteriak-teriak "Basmi...Bantai..". Melihat situasi yang tidak kondusif, panitia membubarkan acara tersebut."Kita berbicara pelurusan sejarah 65. Kita tidak melawan mereka denga kekerasan . Kita mengalah saja," kata Koordinator Institut for Culture and Religion Studies (Incres) Lolly Suhengky saat ditemui wartawan di Wisma Berantas II, Bandung.Lebih lanjut, Lolly menjelaskan penelitian yang mereka diskusikan merupakan penelitian tahun 2001 di sejumlah tempat di Jawa Barat. Sedangkan peserta diskusi sebagian besar berusia di atas 70 tahun, berasal dari Subang, Purwakarta, Cirebon, Bogor, Bandung, Garut, dan Jakarta.Dua orang panitia, yakni Ketua Pelaksana diskusi Hasyim Adnan dan Chusnul Hidayat dari Syarekat Yogyakarta dibawa ke kantor Polres Bandung untuk dimintai keterangnnya. Menuruty Lolly, acara diskusi ini sudah diberitahukan ke kepolisian. Tetapi pihak kepolisian tidak memberi izin terus.Spanduk acara dan buku tamu diambil aparat kepolisian Bandung Tengah. Selain itu, aparat juga memasang police line dengan ukuran 10X7 meter di lokasi kejadian.Diskusi dijadwalkan siang ini mendengarkan dua pembicara, yakni dari Komnas HAM dan Dr Ribka Tjiptaning Proletariyati, penulis buku "Aku Bangga Jadi Anak PKI" yang kini menjadi Ketua Komisi IX DPR. Acara tersebut bertema "Pasamuan perempuan-perempuan tangguh, menggugah memori, menggapai rekonsiliasi, memperkuat NKRI".
(jon/)











































