Bantu Pemerintah Palestina, Pejabat Hamas Selundupkan Uang

Bantu Pemerintah Palestina, Pejabat Hamas Selundupkan Uang

- detikNews
Sabtu, 20 Mei 2006 06:32 WIB
Gaza - Seorang pejabat dari kelompok Hamas tertangkap tangan saat menyelundupkan uang sebesar US$ 815 ribu atau setara dengan Rp 7,5 miliar di perbatasan Gaza. Uang tersebut dibawa dari Mesir dengan cara disembunyikan dari balik pakaian.Sami Abu Zuhri nama pejabat Hamas tersebut berniat membantu pemerintahan Hamas yang mendapat blokade ekonomi dari kalangan internasional. Seperti dilansir international herald tribun Sabtu (20/5/2006), Usaha itu digagalkan oleh seorang petugas bea dan cukai di perbatasan yang loyal terhadap Presiden Mahmoud Abbas dari kelompok Fatah.Sesuai peraturan di Palestina, setiap orang yang membawa lebih dari US$ 2.000 wajib melaporkannya kepada petugas. Atas kejadian ini Abbas memerintahkan pihak berwenang untuk menyelidiki kasus tersebut.Dalam keterangannya, Zuhri menyatakan uang tersebut berasal dari sumbangan masyarakat Palestina yang berada di luar negeri dan donatur yang bersimpati. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai nasib uang tersebut yang direncanakan dibawa ke ke kantor kejaksaan.Pemerintah Palestina saat ini menghadapi kesulitan keuangan setelah Israel menghentikan transfer pajak sebesar US$ 50 juta per bulan karena sikap PM Palestina Ismail Haniyeh yang tidak mau mengakui Israel sebagai sebuah negara.Akibatnya, sejak bulan Februari otoritas Palestina tidak mampu membayar gaji 160.000 pegawainya yang 70.000 diantaranya merupakan petugas keamanan.Ketegangan antara Kelompok Fatah yang mendukung Presiden Mahmoud Abbas dengan kelompok Hamas yang mendukung PM Ismail Haniyeh akhir-akhir ini semakin meningkat. Kedua pihak menggelar kekuatan pasukannya masing-masing. Pihak Hamas menolak perintah Presiden untuk membubarkan pasukannya.Masyarakat internasional terutama AS mendesak Abbas untuk menunjukkan otoritasnya terhadap seluruh kekuatan polisi di Palestina. Banyak pihak yang merasa khawatir konflik jika ini akan membesar dan menjadi perang saudara. (bal/)


Berita Terkait