Ulama NU Bahas Radikalisme, Fundamentalisme dan Pasar Modal

Ulama NU Bahas Radikalisme, Fundamentalisme dan Pasar Modal

- detikNews
Sabtu, 20 Mei 2006 02:27 WIB
Solo - Sejumlah ulama NU yang duduk di struktural pimpinan wilayah dan pimpinan cabang di Jawa Tengah, selama dua hari ini berkumpul di Solo. Mereka duduk bersama dalam majelis bahtsul masa'il diniyah PWNU Jateng. Tema yang dipilih untuk dibahas adalah radikalisme, fundamentalisme dan pasar modal.Bahtsul masa'il diniyah tersebut digelar di Ponpes Al-Qur'aniyy Az-zayadiyy, Solo. Pembukaan acara dilakukan pada Jumat (19/5/2006) malam dihadiri sekitar tiga ratus orang yang merupakan utusan cabang-cabang NU se Jateng serta para nahdliyyin yang menaruh perhatian besar pada majelis tersebut.Dari seluruh hadirin tersebut nantinya yang akan terlibat dalam pembahasan sertamencari landasan hukum bagi persoalan yang dibahasa hanyalah para ulama yang duduk di syuriah masing-masing cabang serta anggota syuriah wilayah, dipimpin langsung oleh Rois Syuriah PWNU Jateng KH Masruri Mughni.Kepada detikcom seusai acara pembukaan, Ketua PWNU Jateng M Adnan mengakui bahwa saat ini banyak persoalan bangsa yang perlu mendapat perhatian dan pembahasan oleh para ulama agar umat, khususnya, warga NU tidak menjadi kebingungan ketika menghadapinya."Dari banyak persoalan yang ada, kita buat skala prioritas dan kami memutuskan untuk membahas ketiga persoalan itu terlebih dahulu. Alasannya karena ketiganya saat ini menjadi cukup penting untuk segera disikapi karena menyangkut langsung dalam kehidupan umat," ujar Adnan.Menurutnya, secara luas telah diketahui NU bukan organisasi muslim yang mendasarkan pemahaman keagamaan pada pandangan yang radikal maupun fundamentalisme. Namun demikian para ulama NU merasa perlu untuk membahasnya dan merumuskan pemikirannya agar dapat dijadikan acuan bagi umat.Sedangkan tentang pembahasan mengenai pasar modal maupun pasar bebas, perlu segera dirumuskan juga dasar-dasarnya dengan pertimbangan bahwa saat ini kegiatan itu telah berlangsung di sektor riil kehidupan bangsa Indonesia."Para ulama merasa perlu mencarikan dasar-dasar hukum agama yang mengaturnya agar umat bisa lebih berhati-hati dalam pelaksanaannya. Tidak ada salahnya dirumuskan sekarang meskipun dalam praktiknya kegiatan sudah berjalan," paparnya.Mengenai Kota Solo yang dipilih sebagai tuan rumah, Adnan menampik jika dikatakan pemilihan itu didasarkan pada penilaian umun yang menempatkan Solo akhir-akhir ini lekat dengan citra kekuatan muslim radikalis dan fundamentalis."Jauh sebelum lokasi ditentukan, tema bahasan sudah dirumuskan dengan matang oleh pimpinan wilayah serta mendengarkan masukan-masukan dari cabang. Suatu kebetulan saja kalau acara ini digelar di Solo. Lagipula pencitraan seperti itu tergantung oleh siapa yang membuat penilaian," lanjutnya.Usai pembukaan, acara dilanjutkan mendengarkan paparan-paparan para ahli danakademisi disiplin ilmu terkait yang didatangkan dari sejumlah perguruan tinggi di Jateng. Paparan itu nantinya akan dijadikan sebagai salah satu masukan bagi para ulama dalam menentukan hasil bahtsul masa'il. (bal/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads