Ghibah

Kolom Hikmah

Ghibah

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 18 Mar 2022 08:03 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Pengertian ghibah menurut Imam Ghazali adalah, menyebutkan seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya saat orang itu mendengarnya, seperti menyebutkan kekurangan yang ada pada tubuhnya, keturunannya, pekerjaannya, perkataannya, agamanya atau dunianya, bahkan tentang baju, rumah atau binatangnya.

" Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, 'Bagaimana bisa? ' Rasulullah Saw. menjelaskan, 'Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya," (HR At-Thabrani).

Melakukan ghibah sangat mudah dan seringkali tidak sengaja terucap ketika berkumpul, berdiskusi maupun chating WA atau lainnya. Kadangkala guyonan dengan membully seseorang, ini sering terjadi karena seperti dianggap bumbu dalam pergaulan. Tindakan ini termasuk bergunjing, maka hindarilah jika ingin terhindar dosa. Pesan para ulama, taruhlah lisanmu di belakang hati, jika apa yang akan disampaikan dan setelah disaring oleh hati, hasilnya baik maka sampaikanlah dan jika sebaliknya maka diamlah. Janganlah lisanmu berada di depan hati, maka apa saja akan keluar sebelum difilter oleh hati termasuk ghibah maupun fitnah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikisahkan oleh 'Amir ibn Dinar berkata, " Seorang laki-laki penduduk Madinah mempunyai saudara perempuan yang tinggal di pinggiran kota. Saat perempuan itu meninggal dunia ia mengurus jenazahnya sampai selesai penguburan. Maka laki-laki tersebut kembali pada keluarga saudara perempuannya. Tiba-tiba ia teringat bahwa kantung yang di bawahnya tertinggal di kuburan. Kemudian ia menggalinya dan menemukan kantung tersebut. Saat ia mengangkat papan yang menutupi liang lahad, tiba-tiba ia mendapati api yang menyala-nyala di dalam kuburan itu. Bergegas ia mendatangi ibunya dan berkata, " Beritahukanlah kepadaku apa yang pernah dilakukan saudara perempuanku." Ibunya menjawab," Dulu ia suka mendatangi pintu-pintu rumah tetangga dan menempelkan daun telinganya pada daun pintu itu untuk mencuri dengar pembicaraan para penghuni rumah. Setelah itu, ia menyiarkannya kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba." Kini ia ( laki-laki ) tahu sebab azab kubut Itu. Oleh sebab itu, barangsiapa yang selamat azab kubur, jagalah diri dari menggunjing dan mengadu domba.

Zaman modern ini, mencuri dengar dengan cara yang jauh lebih canggih. Peralatan penyadapan dengan teknologinya bisa mencapai radius lebih luas dari masa sebelumnya. Model penyadapan atau mencuri dengar ada beberapa motif, ada dengan alasan memberantas korupsi, bisa dengan menyadap musuh untuk dapatkan info tentang strateginya. Namun yang paling bahaya adalah melakukan perbuatan tersebut untuk mengadu domba suatu kaum. Orang yang Mencuri dengar di dalam kubur sudah mendapatkan " hadiahnya " berupa jilatan api dan kelak waktu pengitungan ( hisab ) juga menerima konsekwensinya.

ADVERTISEMENT

Al-Hasan r.a. Berkata, " Demi Allah, ghibah itu lebih cepat merusak agama seorang mukmin daripada pemakan daging."

Sedangkan Abu Hurayrah r.a. Berkata, " ( Ghibah itu adalah ) seseorang dari kalian melihat debu pada orang lain, sementara gunung didepan matanya tidak terlihat."
Begitu besarnya kerusakan akibat ghibah, sehingga Allah Swt. merasa perlu memberikan larangan dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi, " Janganlah sebagian dari kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Pastilah ia merasa jijik kepadanya."

Sementara Jabir ibn Abdillah al-Anshari r.a. meriwayatkan bahwa bau ghibah itu tampak jelas pada zaman Nabi Saw. karena jumlah masyarakat masih sedikit. Adapun ghibah pada zaman saat ini, saking banyaknya menenuhi hidung sehingga tidak mudah membedakan baunya. Artinya setiap jengkal dalam kehidupan ini seakan ghibah seperti pembicaraan biasa. Ingatlah pada seorang sahabat yang berkata, " Barangsiapa yang mati setelah bertobat dari ghibah, ia akan menjadi orang terakhir yang masuk surga. Akan tetapi, barangsiapa yang mati dalam keadaan tetap melakukan ghibah, ia merupakan prang pertama yang masuk neraka."

Seperti hadis di atas bahwa ghibah lebih buruk dari zina. Seorang yang berzina dan bertobat, Allah memberi ampunan. Namun penggunjing tidak akan diampuni dosanya sebelum orang yang digunjing memaafkannya. Oleh karena kita harus hati-hati dalam pergaulan maupun berkata-kata, agar tidak dengan mudah melakukan perbuatan ghibah. Semoga Allah Swt. selalu memberikan hidayah agar kita semua terhindar dari perbuatan ghibah.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads