Overstay di Jakarta, WN Nigeria Ditangkap Imigrasi Bali

ADVERTISEMENT

Overstay di Jakarta, WN Nigeria Ditangkap Imigrasi Bali

Sui Suadnyana - detikNews
Senin, 14 Mar 2022 18:43 WIB
WN Nigeria ditangkap Imigrasi Bali. (Sui Suadnyana/detikcom)
WN Nigeria ditangkap Imigrasi Bali. (Sui Suadnyana/detikcom)
Denpasar -

Warga negara (WN) Nigeria bernama Amananambu Emmanuel Ebuka ditangkap Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Inteldakim) Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai. Pria tersebut ditangkap lantaran melebihi izin tinggal (overstay) di RI.

"Izin tinggal yang bersangkutan itu berakhir sejak tanggal 21 Agustus 2019. Dari hasil pemeriksaan bahwa yang bersangkutan selama ini tinggal di Jakarta," kata Kepala Bidang Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, Yoga Aria Prakoso Wardoyo, saat konferensi pers di kantornya, Senin (14/3/2022).

Yoga mengatakan awalnya pada 5 Maret lalu pihaknya mendapatkan informasi akan ada warga negara asing (WNA) yang akan melakukan penerbangan domestik dari Jakarta menuju Bali. WNA itu ke Bali diduga menggunakan surat keterangan hasil PCR palsu.

"Waktu itu belum ketahuan warga negara apa karena masih (informasi) awal, informasi (dari) intelijen yang akan ke Bali terbang domestik dari Jakarta diduga menggunakan hasil PCR palsu. Awalnya di situ, yaitu menggunakan (nomor penerbangan) JT16 yang tiba pada pukul 17.00," terang Yoga.

Mengetahui hal itu, pihaknya segera menindaklanjuti informasi tersebut. Tim dari Bidang Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai menuju Bandar Udara (Bandara) Internasional I Gusti Ngurah Rai.

"Di sana kami berkoordinasi dengan otoritas bandara, Angkasa Pura dan para penegak hukum lain yang ada di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai," jelas Yoga.

Setelah mendapati WNA tersebut, petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Denpasar kemudian melakukan validasi terhadap surat keterangan PCR WN Nigeria tersebut. Hasil validasi menyatakan bahwa surat keterangan PCR asli.

Sayangnya, ketika ditanya lebih lanjut, WN Nigeria tersebut tidak bisa menunjukkan paspor kepada petugas Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai.

"Begitu kami menanyakan izin tinggal, dokumen perjalanan yang bersangkutan tidak dapat menunjukkan paspornya. Hanya menunjukkan sebuah kartu sebagai pengganti passpor menunjukkan warga negara asing bahwa dia adalah warga negara Nigeria," ujar Yoga.

Karena itu, petugas Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai membawanya ke kantor guna memperoleh keterangan lebih lanjut. Pada saat dilakukan pemeriksaan awal di Ruang Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai yang bersangkutan baru menunjukkan paspornya.

Dari situ, pihak Bidang Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai mengetahui bahwa yang bersangkutan adalah warga negara Nigeria yang bernama Amananambu Emmanuel Ebuka. Paspor yang bersangkutan berlaku hingga Januari 2024. Ia selama ini tinggal di Jakarta, namun izin tinggal berakhir sejak 21 Agustus 2019.

"Jadi tinggal di Jakarta, kemudian baru tanggal 5 Maret ingin berkunjung ke Bali. Namun, karena informasi tersebut akhirnya kita bisa melakukan pencegahan penangkapan di Bandara Internasional Ngurah Rai walaupun dia terbang fligh domestik dari Jakarta menuju Ngurah Rai," ucap Yoga.

"Dari hasil pemeriksaan awalnya, yang bersangkutan tidak punya biaya untuk melakukan perpanjangan (izin tinggal). Karena sudah terlalu banyak sesi untuk membayar dan menambah beban untuk membayar, masuk ke bandara Internasional Ngurah Rai dan stay di Jakarta," imbuhnya.

WN Nigeria tersebut kini disangka telah melanggar Pasal pasal 78 ayat 3 Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian karena tinggal di RI melampaui izin tinggal lebih dari 60 hari. Hingga saat ini, pihak Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai tengah mengurus berkas pendeportasian yang bersangkutan.

"Jadi sampai saat ini kami melakukan penyelesaian administrasi untuk yang bersangkutan untuk proses tindakan selanjutnya," ungkap Yoga.

(isa/isa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT