Inspirasi

Babeh Idin Menagih Naturalisasi Sungai ke Anies Baswedan

Marteen Ronaldo Pakpahan - detikNews
Minggu, 13 Mar 2022 16:38 WIB
Babeh Idin di Hutan Kota Sangga Buana, dekat Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jaksel, 8 Maret 2022. (Marteen Ronaldo Pakpahan/detikcom)
Babeh Idin di Hutan Kota Sangga Buana, dekat Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jaksel, 8 Maret 2022. (Marteen Ronaldo Pakpahan/detikcom)
Jakarta -

Babeh Idin atau Chaerudin adalah jawara lingkungan yang diakui jasanya oleh negara lewat Anugerah Kalpataru Tahun 2013. Sebagai orang yang sudah pernah berjuang memelihara lingkungan sungai, dia menagih janji ke pemimpin Jakarta.

"Anies maupun Riza jangan tersinggung ya. Gua orang tua, gua nggak didukung sama aparat, tapi ini kan kemauan yang ingin kita bentuk," kata Babeh Idin di Hutan Kota Sangga Buana, dekat Kali Pesanggrahan, tak jauh dari Jl Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (8/3).

Di masa mudanya, pria berusia 66 tahun yang berpeci merah ini telah menempuh perjalanan dari hulu ke hilir sungai, dari Bogor hingga Kamal Muara. Dia meresapi betul sungai beserta spirit penjagaan lingkungannya. Dia menganggap 13 sungai yang mengalir di Jakarta ini adalah jalan tol masa lalu, era Tarumanegara. Namun kini, nasib sungai-sungai ini memprihatinkan. Maka, sungai-sungai ini perlu dinaturalisasi.

Dia merasa sungai kurang diperhatikan oleh tangan-tangan pemerintahan, melainkan jalan rayalah yang dinilainya lebih sering digarap. Dia sering melihat proyek pelubangan jalan. Dia ingin Gubernur DKI Anies Baswedan memprioritaskan sungai.

"Anies sebetulnya tidak usah gali-gali lubang di jalanan. Selesaikan dulu naturalisasi. Naturalisasi itu bukan hanya kita melebarkan badan sungai, tapi juga menjaga peradaban budayanya, konservasinya," kata Babeh Idin dengan gaya nyablak dengan logat khas Betawi.

Dia menjelaskan, tiap daerah di Jakarta punya sejarah masing-masing, sekilas bisa dilihat dari toponiminya. Misalnya, kata dia, Pondok Kopi dulu adalah tempat tanaman kopi. Toponimi sungai juga seperti itu.

"Kan ada Ciliwung itu artinya eling, sadar, tahu diri. Pesanggrahan artinya tempat berkumpul. Citarum yang namanya menggelegat, Cisadane mata air kehidupan. Karukut kekuatan. Kalau konservasi itu dibangun berdasarkan nilai budaya itu, wah keren banget, menjadi suatu produk peradaban dunia dalam bidang pariwisata," tutur Babeh Idin.

Sebanyak 13 sungai di Jakarta harus dibenahi lewat naturalisasi. Dia membenarkan kalimat detikcom saat salah sebut sebagai 'normalisasi'. Dia setuju dengan konsep naturalisasi sekaligus pembenahan konservasi, penghormatan nilai historis dan budaya, dan pengembangan nilai ekonomi sungai. Bila sungai di Jakarta dibenahi, Jakarta bisa bebas banjir.

"Padahal banjir itu dari mana coba? Yang bikin banjir itu jidat lu, manusia (masyarakat semua, red). Soalnya, hulu sampai hilir nggak diperhatikan," kata dia.

Belajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh IdinBelajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh Idin (Andhika Prasetia/detikcom)

Bila sungai dan kedung berfungsi dengan baik, air tidak akan menggenangi jalanan. Air yang ada di jalanan, kata dia, adalah dampak dari masalah sesungguhnya, bukan masalah itu sendiri. Masalah sesungguhnya ada di sungai yang kurang diperhatikan.

"Tetapi, maaf-maaf saja, pemerintahan sekarang ini, meski bukan salah siapa-siapa juga, tidak diprioritaskan pengerukan sungai. Semua kalau banjir yang disalahkan sungai," tuturnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri Hari Ciliwung ke-7 di Condet, Jaktim. Ia juga sempat menanam buah salak di bantaran sungai.Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri Hari Ciliwung ke-7 di Condet, Jaktim. Ia juga sempat menanam buah salak di bantaran sungai. (Grandyos Zafna/detikcom)

Masa jabatan Anies Baswedan akan berakhir pada Oktober 2022. Dia masih menantikan hasil naturalisasi sungai-sungai Jakarta.

"Harusnya masa-masa terakhir Anies ini sungai ditanganin," tandasnya.

Simak Video 'Babeh Idin, Putra Betawi Penjaga Kali Pesanggrahan':

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/dnu)