Inspirasi

Babeh Idin, Jawara Penjaga Kali Pesanggrahan

Marteen Ronaldo Pakpahan - detikNews
Minggu, 13 Mar 2022 12:15 WIB
Jakarta - Pria 66 tahun ini nampak masih segar bugar. Dengan logat khas Betawi dan gaya blak-blakan dia bercerita soal perjuangannya menjaga Kali Pesanggrahan. Dia adalah Babeh Idin, jawara lingkungan yang inspiratif.

"Jawara itu artinya bukan mukul orang sampai mati atau kelengar. Jawara adalah bagaimana kita menjadikan sahabat, bahkan sampah bisa menjadi sahabat, menghidupi banyak orang, bisa menghidupkan ribuan pohon," kata Babeh Idin kepada detikcom, Selasa (8/3) lalu.

Saya berbincang dengan Babeh Idin di Hutan Kota Sangga Buana, di bantaran Kali Pesanggrahan, kawasan Kelurahan Lebak Bulus, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Suasana asri dengan pepohonan dan rumah khas Betawi ini dulu ternyata adalah tempat membuang sampah masyarakat sekitar, sampai akhirnya Babeh Idin turun tangan. Semua ini berangkat dari keprihatinannya melihat lingkungan bantaran kali.

"Ceritanya panjang, tong (entong, panggilan untuk anak laki-laki). Judulnya kesel," kata Babeh Idin.

Belajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh IdinBelajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh Idin Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Kesel atau kesal yang dirasakan Babeh Idin karena kerusakan lingkungan sungai dia transformasikan menjadi perbuatan nyata, membersihkan sungai dari sampah, menanami bantaran kali dengan pepohonan, menabur benih ikan, hingga mengajak orang-orang untuk bertani dalam Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana.

Babeh Idin bernama asli Chaerudin. Dia adalah pria asli Karang Tengah, Lebak Bulus, kelahiran 13 April 1956. Pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Dasar (SD).

Namanya tercatat sebagai penyelamat lingkungan, antara lain sebagaimana ditulis oleh Sumardiyansyah dalam buku 'Kota Tua Punya banyak Cerita, Jilid I' oleh Alnoza, dkk.

Babeh Idin yang sering berpenampilan bak Si Pitung ini bekerja suka rela menghijaukan bantaran Kali Pesanggrahan sejak 1992, beberapa tahun setelah ia pulang dari perantauan di Gunung Tanggamus, Lampung. Dia kesal oleh kondisi kampung halamannya. Menurutnya saat itu, sudah tidak ada lagi orang yang peduli dengan lingkungan karena sampah juga ada di tiap sudut bantaran sungai, air sungai hitam, pepohonan ditebangi dan didirikan bangunan, padahal sempadan sungai harus dijaga dari bangunan, minimal 50 meter, demikian menurut peraturan yang dia pahami.

Babeh Idin kemudian bergerak menanam bambu, sukun, melinjo, rambutan, tanjung, belimbing, nangka dan pohon lainnya di bantaran sungai. Akhirnya, sekitar 20 km dari Pondok Cabe sampai Lebak Bulus bisa menjadi lebih hijau. Selain pohon keras, ada pula tanaman obat dan rempah.

Belajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh IdinBelajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh Idin Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Babeh Idin mendirikan Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana tahun 1998, dengan total luas kawasan 120 hektare termasuk yang ada di Jakarta Selatan ini dan di Bogor, Tangerang Selatan, dan Depok. Di Jaksel sendiri, ada 40 hektare di bantaran Kali Pesanggrahan ini, menjadi Hutan Kota Sangga Buana ini.

Di sini, ada aktivitas pertanian KTLH Sangga Buana, ada pula aktivitas pengolahan sampah. Masyarakat bisa pula sekadar singgah menikmati suasana, melepaskan tekanan hiruk-pikuk Jakarta di kawasan hasil kerja keras Babeh Idin ini.

Belajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh IdinBelajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh Idin Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Atas jasanya, Babeh Idin mendapatkan berbagai penghargaan. Tahun 2000, dia dianugerahi Penghargaan Lingkungan Jakarta Selatan dalam kategori Penyelamat Lingkungan Hidup. 2001, dia diganjar penghargaan Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan, karena telah menggerakan Kelompok Tani Penghijauan Terbaik se-DKI. Masih di tahun yang sama, dia mendapat penghargaan dari Gubernur DKI Sutiyoso dalam rangka penghijauan dan konservasi alam nasional. Tahun 2002, dia mendapat penghargaan dari Kwartir Nasional. Setahun kemudian, dia mendapat penghargaan sebagai Tokoh Penyelamat Air dalam rangka Hari Air Sedunia, bertema 'Air untuk Masa Depan'.

Tahun 2013, Babeh Idin menerima anugerah tertinggi dalam hal lingkungan hidup di negara ini, Kalpataru, dalam kategori perintis lingkungan hidup.

"Alam ini bukan warisan, tapi titipan anak cucu. Bukan pemerintah, tapi kita, elu yang harus menjaga," kata Babeh Idin saat berbincang dengan detikcom.

Belajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh IdinBelajar Melestarikan Lingkungan Pesanggrahan dari Babeh Idin Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Babeh Idin punya rencana ke depan untuk menggelorakan semangat lewat festival kopi Nusantara. Bersama jaringan anak-anak muda di berbagai daerah, bahkan di luar Pulau Jawa, Babeh Idin mendukung penanaman kopi ramah lingkungan.

"Hutan kita tanmi kopi, ribuan orang. Sekarang kita bergerak lagi ke Kalimantan, namanya menanam kopi Nusantara, diawali dari Ciliwung. Ini untuk menyatukan anak bangsa. Norak tapi keren," tandasnya.

(dnu/dnu)