Akibat Hujan Abu, Pengungsi Merapi Batal Panen

Akibat Hujan Abu, Pengungsi Merapi Batal Panen

- detikNews
Kamis, 18 Mei 2006 17:17 WIB
Magelang - Hujan abu di Merapi yang terjadi beberapa kali membuat tanaman rusak. Pengungsi pun batal panen.Pengungsi dari Desa Kaliurang, Srumbung, Daryanto mengaku, warga tak bisa memberi serbuk pada salak-salak karena aktivitas Merapi masih cukup membahayakan. Dengan demikian, salak itu tidak bisa menghasilkan buah untuk sementara waktu."Kalau pun bisa kembali ke desa sebentar, kami tidak punya waktu untuk menyerbuki (memberi serbuk) pada salak-salak kami. Akhirnya ya tidak bisa berbuah," kata dia ketika ditemui di TPA (Tempat Pengungsian Akhir) Lapangan Desa Jumoyo, Kec. Salam, Kab. Magelang, Kamis (18/5/2006).Sudaryanto yang kini sehari-hari ikut bertanggung jawab menjaga TPA menyebutkan, biasanya dalam seminggu dia bisa panen dua kali. Setiap kali panen mendapatkan 2 kuintal. Meski kecewa, dia ikhlas tak bisa panen beberapa waktu ini.Tidak minta ganti tugi pada pemerintah? "Ya mau bagaimana lagi? Ini fenomena alam kok. Biar saja tidak bisa panen. Yang penting selamat," jawabnya.Hal yang sama dituturkan Suprapto. Lelaki yang dikenal punya lahan luas ini menjelaskan, yang paling parah terkena dampak aktivitas Merapi adalah warga yang menanam tomat. Tanaman tersebut ternyata hancur atau rusak jika terkena abu."Saya tidak bisa memastikan berapa luasnya (tanaman tomat yang kena abu). Ya, berhektar-hektar. Karena itu, ada beberapa warga yang nekat kembali ke desanya untuk menyiram air tanaman tomatnya agar tidak rusak setelah kena hujan abu," paparnya.Warga Desa Kaliurang memilih bertahan di TPA meski kondisi Merapi terlihat tenang beberapa hari ini. Mereka masih meyakini bahwa sewaktu-waktu kondisi Merapi bisa berubah drastis seperti pernah terjadi pada tahun 1994. Pada saat itu, awan panas (wedhus gembel) mengamuk di saat status Merapi masih 'waspada.' (asy/)


Berita Terkait