Bela Rocky soal 'Dungu', Rachland Minta Sekjen PSI Tak Seret Nama SBY!

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 11 Mar 2022 10:12 WIB
Wasekjen PD Rachland Nashidik
Rachland Nashidik (Farih/detikcom)
Jakarta -

Pendiri Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) Rachland Nashidik membela Rocky Gerung yang menyerang Sekjen PSI Dea Tunggaesti dungu. Menurut Rachland, yang diserang Rocky bukan personal Dea, melainkan pikiran.

"'Dungu' yang dimaksud RG bukanlah serangan terhadap orang, tapi terhadap pikiran, persisnya terhadap ketiadaan koherensi dalam pikiran," kata Rachland kepada wartawan, Jumat (11/3/2022).

Rachland sepakat dengan Rocky Gerung bahwa Sekjen PSI 'bersilat lidah' memamerkan inkoherensi. Sekjen PSI Dea, kata Rachland, mau menolak penundaan pemilu yang dipandang inkonstutusional dengan menyorongkan gagasan penambahan periode kekuasaan yang juga inkonstitusional.

"Ini yang dimaksud Rocky sebagai pikiran 'dungu;. Ini juga contoh dari pernyataan RG bahwa 'ijazah adalah tanda orang pernah sekolah, bukan tanda orang pernah berpikir'," ujarnya.

Rachland juga meminta Sekjen PSI Dea tak menyeret-nyeret nama Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono yang secara konsepsional dan faktual berada di luar 'gerbong' PSI.

"Sudah sejak ia masih berkuasa, SBY menolak penambahan periode berkuasa. Justru ia, sebagai Ketua Fraksi ABRI kala itu, aktif mengupayakan demokrasi konstitusional (constitutional democracy) yang salah satu prinsip fondasionalnya adalah membatasi, bukan menambahi, periode kekuasaan presiden. Secara histioris, ini bertujuan mencegah Indonesia kembali menjadi negara otoritarian akibat memiliki pemimpin otokratik dan korup," ucap Rachland.

Ide amandemen konstitusi, menurut Rachland, tidak haram. Namun Rachland menilai amandemen konstitusi dengan tujuan untuk menambah masa berkuasa presiden yang sedang berkuasa, sangat berbahaya bagi demokrasi konstitusional.

"Lain halnya dengan amandemen untuk menambahi hak-hak dasar dan kebebasan sipil warga negara. Atau amandemen untuk mendefinisikan sistem ketatanegaraan kita agar duduk kewenangan parlemen dan eksekutif lebih efisien dalam memproduksi demokrasi dan meminimalisir politik uang," katanya.

Menurut Rachland, publik kecewa pada PSI yang berisi anak-anak muda tak menjadi bagian aktif dari politik progresif. PSI, kata Rachland, malah memilih berada pada sisi yang salah dari sejarah karena, menurutnya, ikut serta dalam upaya mengembalikan Indonesia pada otoritarianisme.

"Pemihakan PSI pada gerakan politik haram menunjukkan watak mereka yang sebenarnya, yaitu partai oportunis yang suka mengekor pada apapun asal memberi mereka sedikit bagian," imbuhnya.

Simak video 'Rocky Gerung Vs Sekjen PSI Gegara Sebutan Dungu':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.