Menhan: Demokrasi Tidak Bunyi untuk Orang Miskin, Tapi Perut
Kamis, 18 Mei 2006 12:54 WIB
Jakarta - Tindakan anarkis dan kerusuhan yang dilakukan masyarakat dalam proses demokrasi di berbagai daerah terus terjadi. Lalu apa hubungannya dengan perut keroncongan?Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menilai hal itu terjadi karena faktor kemiskinan yang melanda sebagian masyarakat. Kemiskinan itulah yang memicu tindakan anarkis dan rusuh. Jadi lebih dikarenakan urusan ekonomi dan perut."Untuk orang-orang miskin, demokrasi tidak bunyi, tapi perut mereka yang bunyi," cetus Juwono usai membuka "Kursus Kepemimpinan dan Manajemen Pertahanan I" di Dephan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (18/5/2006).Banyaknya jumlah orang miskin di Indonesia, lanjut dia, merupakan bagian persoalan dari persoalan tata laksana pemerintah. Dephan bersama dengan kemitraan berusaha mencari rumus tentang kepemimpinan dan ketatalaksanaan yang sesuai dengan kondisi sekarang.Menurut Juwono, para pemimpin yang ada sekarang harus bisa mengangkat martabat dan harkat jutaan rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.Pemerintah juga harus bisa secepat mungkin menghadirkan sistem pemerintahan yang mengangkat rakyat dari kemiskinan secara ekonomi."Sehingga mereka tidak usah terlibat dalam kegiatan anarkis," kata Juwono.Untuk itu, Juwono meminta para pemimpin lokal, baik tokoh masyarakat dan tokoh agama berupaya bagaimana menyadarkan masyarakat. Peran tokoh ini penting guna meminta masyarakat bersabar sampai perbaikan datang melalui program-program yang dilakukan pemerintah.
(zal/)











































