ADVERTISEMENT

Ahli Pidana Sebut Ferdinand Sadar Keliru Saat Hapus Tweet 'Allahmu Lemah'

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Selasa, 08 Mar 2022 16:54 WIB
Ferdinand Hutahaean menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Selasa (8/3/2022).
Ferdinand Hutahaean (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Ahli hukum pidana dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Mompang Panggabean mengatakan Ferdinand Hutahaean secara tidak langsung telah mengaku cuitan (tweet) 'Allahmu Lemah Allahku Kuat' itu keliru. Mompang mengatakan hal itu terlihat saat Ferdinand menghapus cuitannya setelah viral di media sosial.

Awalnya, Mompang berbicara tentang unsur kesengajaan saat Ferdinand mencuit 'Allahmu Lemah'. Menurutnya, perbuatan kesengajaan itu harus dibuktikan terlebih dahulu apakah betul kesengajaan atau justru kealpaan.

"Saya sebagai seseorang yang mencermati perbuatan yang disebutkan barusan dengan kronologis semacam itu, ada semacam upaya yang dilakukan oleh pelaku sehingga dengan suatu tekad, dengan suatu niat yang baik, dia berupaya untuk menarik kembali kata-kata tadi, sehingga di sini lah memang harus berhati-hati untuk melihat apakah memang perbuatan itu dilakukan dengan sengaja atau dengan kealpaan," kata Mompang saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (8/3/2022).

Mompang menerangkan dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 disebutkan bahwa unsur kesengajaan meliputi adanya kesadaran dan pengetahuan yang cukup. Kemudian dalam pasal tersebut juga disebutkan adanya unsur kesengajaan manakala seseorang menyadari perbuatannya itu tidak pantas tapi tetap melakukan itu.

"Ketika kita mau menerapkan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1946, di sana dikatakan ada kesengajaan, bahwa kesengajaan itu sudah dapat menimbang dengan jelas, dia sudah memiliki adanya kesadaran, pengetahuan yang cukup, bahwa perbuatan yang dia lakukan itu tidak pantas tetapi dia tetap melakukan itu," kata Mompang.

Soal Ferdinand Hapus Cuitan

Mompang kemudian berbicara mengenai cuitan 'Allahmu' yang kemudian dihapus oleh Ferdinand. Menurut Mompang, penghapusan itu menunjukkan Ferdinand sadar cuitannya keliru.

"Dengan melihat adanya kronologis dari perbuatan pertama dengan yang kedua, yang pertama itu mengajukan suatu yang demikian yang bisa dikategorikan sebagai kebohongan, tetapi ketika menghapuskan itu ada semacam kesadaran bahwa saya sudah keliru, sehingga dia seolah-olah mau meminta maaf dengan itu," ujarnya.

"Nah di situ artinya penting untuk menimbang bagaimana unsur kesalahan si pelaku itu, demikian kita juga kembali juga kepada apa yang sebetulnya yang diinginkan oleh terdakwa atau setelahnya dengan cuitan tersebut," imbuhnya.

Dalam sidang ini, Ferdinand Hutahaean duduk sebagai terdakwa. Ferdinand didakwa menyiarkan kebohongan dan menimbulkan keonaran serta menimbulkan kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA. Perbuatan Ferdinand itu merujuk pada salah satu cuitannya di media sosial yang menyebutkan 'Allahmu lemah'.

Ferdinand pun didakwa melakukan perbuatan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (selanjutnya disebut UU ITE) atau Pasal 156a huruf a dan/atau Pasal 156 KUHP.

(whn/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT