BSSN Temukan 1,6 Miliar Serangan Siber Sepanjang 2021, Mayoritas Malware

Dwi Rahmawati - detikNews
Senin, 07 Mar 2022 19:14 WIB
Konferensi pers BSSN (Anggi Muliawati/detikcom)
Konferensi pers BSSN (Anggi Muliawati/detikcom)
Jakarta -

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkap terdapat 1,6 miliar (1.637.937.022) serangan siber periode Januari-Desember 2021. Adapun mayoritas yang ditemukan antara lain Malware.

"Hasil monitoring BSSN, tercatat lebih dari 1,6 miliar anomali trafik/serangan siber dengan kategori anomali terbanyak yaitu Malware, Trojan Activity (Aktivitas Trojan), dan Information Gathering (Pengumpulan informasi untuk mencari celah keamanan)," ujar Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian dalam konferensi pers, Senin (7/3/2022).

Hinsa mengatakan, untuk tren serangan kasus di Indonesia, sektor tertinggi ada di bidang akademik. Kemudian tren serangan di Indonesia berupa situs web yang mengubah tampilan, pelanggaran data, serangan ransomware, hingga Advanced Persistent Threats (APT).

"Sementara sebaran sektor anomali trafik/serangan siber tertinggi sampai terendah ada pada bidang akademik, swasta, pemerintah daerah, pemerintah pusat, hukum dan personal," kata Hinsa Siburian.

Adapun langkah teknis yang dilakukan BSSN di antaranya pemasangan sensor Honeynet dan analis Malware, optimalisasi cakupan monitoring NSOC, pembentukan tim siber (CSIRT), hingga penguatan sistem elektronik melalui penerapan kriptografi.

"BSSN mengimbau kepada seluruh penyelenggara sistem elektronik harus harus menyelenggarakan sistem elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya sistem elektronik sebagaimana mestinya sesuai amanat UU ITE dan PP PSTE," imbuhnya.

Selain itu, Hinsa Siburian menyebut, berdasarkan data yang dikeluarkan Direktorat Siber Polri periode Januari-Desember, ditemukan 19.529 aduan dari internet. Bahkan, didapat temuan isu hoaks COVID-19 sebanyak 2036.

"Aduan berupa pengancaman, penipuan, pemerasan, fake news atau berita bohong, pornografi. Berdasarkan data Kominfo Januari-Desember 2021, ada 2036 sebaran hoaks, terutama tentang COVID," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Hinsa Siburian mengingatkan masyarakat berhati-hati dalam mengakses digital. Terlebih bagi pembuat sistem yang semestinya memiliki tanggung jawab keamanan.

"Perlu kita sampaikan di sini apapun di ruang siber itu sebenarnya bisa ketahuan, ternyata jejak digital itu bisa dilacak. Kami imbau penyelenggara yang ada di publik dan swasta kalau berani membangun sistem elektronik, dia bertanggung jawab untuk keamanannya," tutup Hinsa.

(isa/isa)