Ngruki: Tudingan AS & Australia untuk Jerat Kembali Ba'asyir
Rabu, 17 Mei 2006 14:19 WIB
Solo - Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush dan PM Australia John Howard menilai Indonesia lemah dalam pemberantasan terorisme. Pihak Pesantren Ngruki menilai pernyataan itu sebagai tekanan bagi Indonesia agar kembali merekayasa penangkapan Ustad Abu Bakar Ba'asyir.Direktur Pesantren Ngruki Ustad Wahyuddin menilai pernyataan Bush dan Howard menjelang pembebasan Ba'asyir dari penjara tersebut sarat dengan muatan tekanan politik bagi pemerintah Indonesia."Pernyataan itu nanti arahnya ke Ustad Abu (Abu Bakar Ba'asyir -red) yang segera akan bebas. Tujuannya untuk menekan pemerintah Indonesia agar mencari-cari cara lagi untuk menjerat Ustad Abu," ujar Wahyuddin kepada detikcom Pondok Pesantren Ngruki, Solo, Rabu (17/5/2006).Sebelumnya Bush dan Howard memberikan penilaian bahwa pemerintah Indonesia masih lemah dan lengah dalam penanganan kasus terorisme. Padahal Indonesia dinilai sebagai kunci pemberantasan tindak terorisme di negara-negara Asia Pasifik.Lebih lanjut Wahyuddin bahkan menilai tindakan yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini dalam menangani tindak terorisme bukan terlalu lemah atau pun lengah, namun justru telah mencapai tataran over. Tindakan polisi bahkan dinilainya telah melampaui batasan yang dimiliki."Saya tidak menolak penindakan terhadap pelaku teror, tapi tindakan polisi kita seperti di Wonosobo itu sudah melampaui batas proporsional dan profesional. Dikatakan, mereka yang disergap bersalah tapi belum terbukti secara hukum sudah ditembak mati. Aneh, kalau itu masih dianggap lemah," paparnya.Karenanya Wahyuddin menilai pernyataan Bush tersebut sarat dengan muatan politik untuk menekan pemerintah Indonesia. Dia bahkan menuding Amerika mempunyai agenda yang lebih besar lagi untuk terus melemahkan Indonesia dan memusuhi muslim."Bush itu sama sekali tidak menegakkan perdamaian, tapi orang yang selalu cari musuh. Kalau dikatakannya bahwa Indonesia kunci pemberantasan terorisme, justru di tangan Bush itulah kuncinya. Dialah yang membuka dan yang menutup kunci terorisme di dunia," tudingnya."Kita pantas saja menduga lebih jauh, mengapa di setiap menjelang Ustad Abu dibebaskan dari penjara selalu saja ada peristiwa-peristiwa tidak mengenakkan yang leyak disebut conditioning dan lalu diikuti pernyataan-pernyataan menyudutkan. Siapa di balik semua peristiwa itu," lanjut pria yang jenggotnya sudah memutih itu. Berani MenolakUstad Wahyuddin meminta kepada pemerintahan Yudhoyono tidak serta-merta menelan mentah-mentah semua penilaian itu. Yudhoyono juga diminta mampu bertindak tegas menampik semua intervensi persoalan dalam negeri oleh kekuatan asing.Terlepas dari berbagai perbedaan prinsip, kata Wahyuddin, Indonesia seharusnya bersikap seperti Iran yang bertekad melawan semua tekanan dan intervensi. Tindakan Iran itu dapat memunculkan sebuah kemandirian sebuah bangsa meskipun dengan berbagai risiko yang harus ditempuh."Indonesia juga harus membuat balancing agar tidak mudah ditekan. Jangan hanya menjalin hubungan dengan satu negara super power. Tidak ada salahnya menjalin hubungan lebih jauh dengan Rusia atau Cina demi kemaslahatan rakyatnya," ujar menantu Abdullah Sungkar tersebut.
(asy/)











































