Pengungsi Merapi Menolak Evakuasi Ternak
Rabu, 17 Mei 2006 13:14 WIB
Klaten - Rencana evakuasi hewan ternak milik pengungsi Merapi diperkirakan akan terkendala. Dari penuturan warga, mereka keberatan jika ternaknya diturunkan ke lokasi pengungsian jika hanya diberi makan jerami dan sedikit konsentrat. Satlak Penanggulangan Bencana (PB) Merapi Kabupaten Klaten telah membuat lokasi penampungan hewan di sebuah area di sebelah Pos Pengungsian Dompol. Lahan kosong milik Kepala Desa Dompol Suwoto tersebut telah diberi palang-palang bambu untuk menambatkan sapi maupun kambing. Lokasi itu dibangun Senin kemarin dan selesai Selasa (17/5/2006).Koordinator Satlak bidang pemeliharaan ternak, Sugiyanto, mengatakan, lokasi tersebut diperuntukkan bagi hewan ternak milik warga Desa Tegalmulyo dan Sidorejo. Diperkirakan penampungan darurat itu mampu menampung tidak kurang dari 3.000 ekor ternak. Sugiyanto mengatakan, pihaknya hanya bertugas melayani kebutuhan warga dalam hal pemeliharaan ternak di pengungsian. Evakuasi ternak sepenuhnya merupakan tugas tim evakuasi setelah ada permintaan dari warga pemilik ternak. Setelah nantinya ternak tersebut berada di pengungsian, lanjutnya, pihaknya hanya mampu menyediakan pakan berupa jerami serta 1,5 kg konsentrat untuk sapi dan 0,5 kg konsentrat untuk kambing. Selain itu juga disediakan tenaga medis dan obat-obatan bagi hewan. Namun menurut petugas Satlak, hingga saat ini belum ada permintaan dari warga. Bahkan beberapa pengungsi bertekat tidak akan mengizinkan jika ternak mereka dibawa turun ke tempat pengungsian dengan persediaan makanan seperti itu. "Sapi milik kami tidak mau makan jerami, maunya rumput segar. Selain itu dalam sehari juga makan bekatul 5 kg. Kalau diungsikan dengan makanan seperti itu sapi kami akan kurus-kurus, padahal tabungan kami ya cuma itu," ujar Darjo, warga Tegalmulyo yang mengungsi di Pos Dompol. Dia bertekat akan melarang jika petugas bermaksud membawa turun ternaknya ke pengungsian. Menurutnya, salah seorang anaknya telah dimintanya tetap berada di pemukimannya di kawasan bahaya Merapi, agar tetap bisa memelihara ternak dan tanaman selama sebagian besar keluarga lainnya mengungsi. Atas adanya penolakan itu, pihak Satlak mengaku belum bisa menemukan solusinya. "Kami pikir dengan kondisi darurat seperti ini persediaan makanan yang kami berikan sudah memadai. Sebab jika harus mencari rumput segar dalam kondisi seperti ini juga sangat susah," ujar Sugiyanto. Seperti diketahui, ratusan warga hingga saat ini masih berada di kawasan bahaya utama Merapi. Berbagai alasan mereka kemukakan, salah satu yang sering terlontar adalah menjaga dan memelihara ternak-ternak mereka.
(nrl/)











































