Pengungsi Merapi Keluhkan Menu Makanan yang Monoton
Rabu, 17 Mei 2006 12:58 WIB
Klaten - Para pengungsi Merapi di Klaten mulai merasakan kekurangnyamanan pemerintah dalam hal menu makanan yang diberikan. Banyak dari mereka bahkan membelikan makanan untuk balita yang tidak doyan makanan jatah dari Satlak PB Merapi. Mereka mengeluhkan kurangnya variasi. Setiap pagi menu yang disajikan adalah nasi dengan dicampur mie instan, makan siang nasi dengan sayuran dan ikan asin atau kerupuk, sore hari nasi dengan sayuran. Banyak warga lanjut usia yang hanya makan nasi dan sayur karena lauk berupa keripik ikan asin atau kerupuk terlalu keras buat mereka. Sedangkan anak-anak balita juga tidak mau menyantap makanan jatah, sehingga orangtuanya terpaksa membelikan makanan di pos pengungsian. Dikonfirmasi tentang persoalan tersebut tim Satlak PB Merapi Klaten mengaku sudah semaksimal mungkin melayani pengungsi. Suhartono, petugas Satlak di Pos Dompol, misalnya, mengatakan bahwa kemampuan pelayanan mereka tidak akan mampu memuaskan semua pihak. "Kami memang menyediakan menu makanan sederhana sesuai kondisi dan kemampuan yang ada. Semua lauk-pauk yang ada memang kami yang membelikan, sedangkan pengadaan beras diambil dari bantuan Pemkab," ujar Suhartono. Seperti diketahui, untuk kesejahteraan pengungsi Merapi, pemerintah mengucurkan Rp 20 miliar dengan rincian Rp 15 miliar untuk pengungsi di tiga kabupaten di Jateng dan Rp 5 miliar untuk pengungsi di satu kabupaten di Yogyakarta. Hingga saat ini tercatat 4.426 warga Klaten di lereng Merapi terpaksa mengungsi di empat pos pengungsian. Selain keluhan di atas, ratusan pengungsi juga mulai terserang penyakit. Di Pos Dompol Klaten, misalnya 375 tercatat mengalami sakit ringan dan seorang dirujuk ke rumah sakit.
(nrl/)











































