ADVERTISEMENT

Puan Cek Harga dan Stok Tempe-Minyak Goreng di Jawa Timur

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Kamis, 03 Mar 2022 12:20 WIB

Dari Pasar Tambahrejo, Puan menuju ke Kampung Tempe Sukomanunggal. Di desa ini terdapat paguyuban yang terdiri dari 12 perajin tempe, 7 perajin 1 tempe gembos, dan 1 pengrajin tahu.

Puan berjalan kaki sekitar 100 meter di lorong pemukiman warga untuk mengecek produksi di Kampung Sukomanunggal yang memasok tempe untuk wilayah kota Surabaya dan sekitarnya. Ia juga berdialog dengan para pengrajin yang mengeluhkan kenaikan harga kedelai, sehingga berdampak terhadap produksi tempe dan tahu.

"Kedelai naik dari harga Rp 8.000 menjadi Rp 11.500/Kg. Lumayan berat, Bu," kata salah satu pengrajin tempe di Kampung Sukomanunggal.

Untuk menyiasati harga bahan baku yang melonjak, perajin mengecilkan ukuran tempe dan tahu. Sebab jika harga jual dinaikkan, khawatir berdampak pada pembelian masyarakat.

Kepada perajin, Puan mengatakan kelangkaan kedelai sudah diprediksi dari tengah tahun 2020 akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Menurutnya, ada berbagai antisipasi yang bisa dilakukan sejak awal.

"Indonesia dapat berkomunikasi dengan beberapa negara penghasil kedelai selain AS. Contohnya Brazil atau Argentina," jelas Puan.

Untuk itu, dia mendorong gotong royong dan koordinasi antara Kementerian Perdagangan (Kemendag) dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam rangka menyesuaikan pasokan dan off taker kedelai lokal. Dijelaskan Puan, sejak tahun 2020 pemerintah seharusnya bisa melakukan riset serius guna memaksimalkan komoditas nonkedelai untuk diolah menjadi tempe.

"Misalnya koro pedang, koro benguk, kacang tanah, kacang hijau, lamtoro, bahkan daun singkong. Keberhasilan penelitian seperti itu bisa untuk parsial substitusi," jelas cucu Proklamator Bung Karno tersebut.

"Kita minta agar sebelum Ramadhan masalah kedelai ini harus sudah bisa diselesaikan," lanjut Puan.

Datangi Pabrik Minyak Goreng >>>



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT